KATAPENGANTAR
Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ” membaca karya sastra”.
Dalam penulisan makalah ini, penulis memperoleh banyak reperensi dari berbagai buku. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap kerangka acuan makalah ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca pada umumnya dan pada penulis pada khusunya.
Pekan Baru, 27, Januari, 2012
Kelompok 9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mengapa ada “sastra” ? sebab memnurut para filsuf manusia adalah “animal simbolorum” (makhluk yang membutuhkan simbol-simbol). Dan simbol menjadi gumpalan ekspresi atau ungkapan yang tercetuskan untuk kebutuhan ada bersama yang lain, atau sekedar memenuhi kelahiran cita-rasa jiwa manusia. Simbol itulah bahasa, tetapi itupun belum menjawab pertanyaan diatas. Penulis mencoba bertanya lagi mulai dengan menukik pada apapun hakekat “sastra”
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa yang dimakasud dengan pengertian karya sastra ?
1.2.2. Bagaimana satra indonesia ?
1.2.3. Bagaimana dan apa saja karya sastra lama dan baru ?
1.3. Tujuan Makalah
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian sastra.
1.3.2. Untuk mengetahui bagaimana sastra indonesia.
1.3.3. Untuk mengetahui bagaimana dan apa saja karya sastra lama dan baru.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Membaca Karya Sastra
Membaca sastra digolongkan kedalam membaca estetis yaitu membaca yang berhubungan dengan seni atau keindahan. Dalam membaca sastra, pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya imajinasinya dan kreativitasnya agar dapat memahami dan menghayati isi bacaan. Setelah membaca sebuah karya sastra pembeca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui karya sastra yang dibacanya. Di sinilah letak kelebihan pembaca karya sastra dibandingkan pembaca karya-karya lain.
Karya sastra dikelompokkan menjadi 3 jenis, prosa, puisi, dan drama. Untuk dapat memahami sebuah karya sastra dengan baik, pembaca harus memiliki pengetahuan tentang fungsi dan unsur-unsur karya sastra yang dibacanya.
2.2.Prosa fiksi
Prosa fiksi sebagai sebuah cerita rekaan yang biasa juga disebut sebagai cerita rekaan memiliki fungsi untuk memberitahukan kepada pembaca tentang suatu kejadian atau peristiwa yang mungkin ada dalam kehidupan nyata. Unsur-unsur prosa fiksi seperti yang sudah Anda pelajari dalam mata kuliah sastra mencakup tema, tokoh, alur, seting atau latar, gaya, dan sudut pandang.
Dalam karya prosa fiksi terkandung sebuah amanat yang dibungkus oleh unsur-unsur cerita tersebut. Kejadian-kejadian dan amanat inilah yang akan Anda peroleh dari cerita yang Anda baca sebagai suatu pengalaman.
2.2.1. Teknik Membaca Prosa Fiksi.
Membaca karya sastra memiliki banyak tujuan, namun dalam rangka belajar dan pembelajaran, membaca karya sastra hanya memiliki 2 tujuan, yaitu untuk melakukan apresiasi dan memberi kritik atau penilaian. Membaca karya sastra untuk tujuan kritik sastra dapat atau sudah Anda pelajari pada mata kuliah Kritik Sastra. Jadi teknik membaca prosa fiksi di sini bertujuan dalam rangka membaca untuk keperluan apresiasi.
Kompetensi yang akan diraih dalam kegiatan membaca prosa fiksi atau membaca cerita rekaan adalah:
1. memahami dan menghayati semua yang dituangkan pengarang dalam ceritanya sehingga pembaca dapat menangkap isi cerita;
2. dapat menganalisis unsur-unsur cerita sehingga tertangkap tema dan amanat yang disampaikan oleh pengarang; dan
3. dapat menceritakan kembali isi cerita dengan baik, dan pada akhirnya dapat menilai cerita rekaan yang dibaca dengan memberi penilaian mengenai bagus atau tidak baguskah cerita tersebut.
2.2.2. Langkah-langkah Membaca Prosa Fiksi.
Membaca prosa fiksi atau cerita rekaan untuk tujuan menangkap isi cerita dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
1. Membaca cerita secara keseluruhan.
2. Menandai dan mencari makna kata-kata sulit.
Membaca prosa fiksi dengan tujuan untuk mengapresiasi, dilakukan langkah-langkah seperti di atas di tambah dengan menganalisis cerita dengan cara mengidentifikasi unsur-unsur cerita dan memahami karakteristik setiap unsur cerita tersebut. Misal unsur tokoh, di sini pembaca mengidentifikasi bagaimana watak para tokoh, apa saja yang dilakukan para tokoh, bagaimana para tokoh menyikapi segala permasalahan yang dihadapi, dan sebagainya.
Peran unsur-unsur cerita ini saling terkait satu dengan yang lainnya, sehingga jalinan peran antarunsur cerita yang disusun pengarang cerita tersebut membentuk suatu keutuhan yang membantu pembaca dalam memahami, menikmati, dan menghayati karya tersebut.
2.3.Membaca Puisi
Membaca puisi pada umumnya bertujuan untuk dapat membacakan puisi tersebut dihadapan orang lain dengan baik. Untuk keperluan tersebut yang harus diketahui pembaca adalah hakikat puisi. Puisi adalah karya sastra yang kaya akan makna, ada yang memberi istilah puisi itu padat makna.
Sebuah puisi pada dasarnya adalah sebuah cerita yang berisi berbagai peristiwa, namun tidak semua peristiwa dalam puisi itu diceritakan. Yang dikemukakan dalam puisi hanyalah inti masalah, peristiwa atau inti cerita. Oleh karena itu dalam penciptaan puisi pengarang banyak melakukan pemadatan. Artinya, bahasa yang digunakan puisi dicari kata-kata yang singkat atau bahkan sengaja disingkat dengan cara mengambil inti dasarnya, seperti menghilangkan imbuhan, menghilangkan pengulangan dan sebagainya. Ada pula puisi yang menuangkan maknanya melalui bentuk puisi itu sendiri yang disebut dengan tipografi, seperti contoh puisi berikut ini.
POT
pot apa pot itu pot kaukah pot itu
Pot pot pot
yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
pot pot pot
potapa potitu potkaukah potaku?
POT
(Sutarji Calzoum bachri, 1981)
pot apa pot itu pot kaukah pot itu
Pot pot pot
yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
pot pot pot
potapa potitu potkaukah potaku?
POT
(Sutarji Calzoum bachri, 1981)
2.3.1. Langkah-langkah Membaca Puisi
1. Karena membaca puisi bertujuan untuk membacakan puisi di depan penonton maka sebelum berhadapan penonton pembaca harus terlebih dahulu mengetahui:
2. siapa dan berapa banyak penoton yang diperkirakan akan hadir;
3. berapa luas panggung dan aula atau gedung tempat berlangsungnya pembacaan puisi tersebut.
Jika kegiatan ini dilakukan di dalam kelas, siswa tentu sudah tidak kesulitan dengan hal tersebut, hanya guru tetap harus memberikan arahan dan bimbingan bagaiman cara membaca puisi di hadapan orang banyak dengan baik.
v Setelah hal itu dipersiapkan dilakukan kegiatan:
1. Membaca puisi secara keseluruhan.;
2. Menandai dan mencari makna kata-kata sulit;
3. Memaknai puisi baris demi baris.;
4. Memaknai/menangkap isi puisi setiap bait;
5. Menangkap isi dan maksud puisi secara keseluruhan;
2.6. Membaca Drama
Drama adalah cerita yang dilakonkan. Artinya karya sastra jenis drama memiliki isi yang tidak berbeda dengan prosa fiksi, hanya pada drama para pelaku atau tokoh yang ada dalam prosa fiksi melakonkan sendiri peristiwanya. Dengan demikian drama ditulis dalam bentuk naskah yang didalamnya ada narasi, dan dialog antar tokoh.
Berdasarkan bentuknya yaitu naska, maka membaca drama bertujuan untuk melakukan pementasan atau pertunjukkan. Jadi membaca naskah drama yang benar adalah secara berkelompok sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam naskah tersebut.
Persamaannya dengan prosa fiksi, drama memiliki unsur-unsur yang mirip dengan prosa, yaitu ada tema, tokoh, latar, alur, tema, serta amanat. Dalam pertunjukkannya, drama dapat dibagi menjadi beberapa babak.
2.6.1. Teknik Membaca Drama.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam membaca drama disesuaikan dengan tujuan yaitu pementasan drama. Jadi sebelum melakukan kegiatan dibuat persiapan berupa pemilihan tokoh sesuai dengan jumlah dan peran setiap tokoh.
Langkah-langkah Membaca Drama yaitu :
1. Membaca naskah drama secara keseluruhan.;
2. Membaca, menghafal, dan mengahayati dialog/isi dialog yang diperankan.;
3. Memberikan gerak (pola) yang sesuai dengan isi dialog;
4. Berlatih melafalkan dialog dengan penghayatan/ekspresi dan gerak yang sesuai dengan isi dialog;
5. Berlatih memerankan masing-masing tokoh sehingga menghasilkan sebuah drama yang bagus.
2.4. Sastra Tradisional
Karya sastra lama lahir pada masarakat lahir pada zaman nya. Masarakat pada zaman itu masi memegang adat istiadat yang berlaku di daerah nya. Karya sastra lama biasa nya bersifat moral, pendidikan, nasihat, serta ajaran agama.
Karya sastra merupakan hasil cipta rasa manusia. Karya sastra lahir dari ekspresi jiwa sang pengarang. Suatu karya sastra dikatan karya sastra apabila isi nya menimbulkan perasaan haru.,menggugah, kagum, dan memdapat tempat di hati pembaca nya. Karya sastra seperti itu dapat dikatakan karya sastra yang adiluhung. Yaitu karya yang dapat menembus ruang dan waktu.
Ciri dari sastra lama yaitu :
1. Anomim atau tidak ada nama pengarangnya;
2. Istanasentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan);
3. Tema karangan bersifat fantastis;
4. Karangan berbentuk tradisonal;
5. Proses perkekmbangannya statis;
6. Bahan klise.
v Pantun
Pantun adalah karya sastra yang bersipat tradisional pantun berkembang dalam masarakat melalui media lisan. Penyebaran pantun dilakukan dari mulut ke mulut. Maka dari sebab itu belum di ketahui siapa pengarang pantun. Dilihat dari jenis nya pantun termasuk jenis puisi lama.
Pantun merupakan karangan yang terikat bentuk dan aturan. Terikat bentuk yaitu terikat dari larik dan bait. Baris ke satu dan ke tiga merupakan sampiran. Dan baris ke dua dan ke empat merupakan isi dari pantun.
v Gurindam.
Gurindam termasuk puisi lama. Bentuk nya hamper sama dengan pantun. Bentuk guringdam terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan perjanjian atau syarat. Baris ke dua merupakan akibat atau kejadian yang di sebabkan baris pertama.
v Hikayat.
Hikayat termasuk termasuk karya sastra lama yang berkembang dalam masarakat secara turun temurun. Sebuah cerita hikayat biasa nya berhubungan dengan cerita istana, kesaktian senjata, dan kehebatan kesatria.
Hikayat banyak bnyak di temukan melalui media tulis. Seperti kertas, daun, bambu, dan kulit binatang. Yang di gunakan zaman dahulu.
2.5. Sastra modern
Sastra baru atau sering disebut juga sastra modern adalah sastra yang muncul dan berkembang setelah masa sastra lama. Bisa dikatakan bahwa sastra modern dimulai ketika terjadi perubahan-perubahan yang cukup mendasar terhadap sifat dan ciri khas sastra yang digunakan masyarakat. Bisa dikatakan pula bahwa lahirnya sastra modern adalah ketika mulai terjadi perubahan penggunaan media yang digunakan yaitu dari media lisan yang bersifat kuno menjadi menggunakan media tulisan yang lebih modern.
Satra baru ialah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehingga sudah tidak asli lagi. Ciri dari sastra baru yaitu :
1. Pengarang dikenal oleh masyarakat luas;
2. Bahasanya tidak klise;
3. Proses perkembangan dinamis;
4. Tema karangan bersifat rasional;
5. Bersifat modern atau tidak tradisional;
6. Masyarakat sentris (berkutat pada masalah kemasyrakatan).
Contoh sastra modern yaitu novel dan roman.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
v Karya sastra merupakan hasil cipta rasa manusia. Karya sastra lahir dari ekspresi jiwa sang pengarang. Suatu karya sastra dikatan karya sastra apabila isi nya menimbulkan perasaan haru, menggugah, kagum, dan memdapat tempat di hati pembaca nya.
v Karya sastra di Indonesia dibagi menjajdi tiga jenis yaitu prosa, puisi dan drama.
Prosa fiksi adalah sebuah cerita rekaan yang biasa juga disebut sebagai cerita rekaan memiliki fungsi untuk memberitahukan kepada pembaca tentang suatu kejadian atau peristiwa yang mungkin ada dalam kehidupan nyata.
Puisi adalah karya sastra yang kaya akan makna, ada yang memberi istilah puisi itu padat makna.
Drama adalah cerita yang dilakonkan. Artinya karya sastra jenis drama memiliki isi yang tidak berbeda dengan prosa fiksi, hanya pada drama para pelaku atau tokoh yang ada dalam prosa fiksi melakonkan sendiri peristiwanya.
v Satra dibagi menjadi dua yaitu sastra tradisional dan satra modern. Sastra tradisional (lama) terdiri dari pantun, gurindam , dan hikayat. Sastra modern terdiri dari novel dan roman.
3.2. Kritik dan Saran
Apabila dalam penulisan makalah ini ada kesalahan, saya atas nama penulis memohon maaf dan bersedia menerima kritik, saran dan masukannya yang bersifat untuk membangun agar menuju kepada kesempurnaan
DAFTAR PUSTAKA
sumber : http://m-wali.blogspot.com/2011/12/ciri-ciri-sastra-lama-perbedaan-antara.html#ixzz1lrvPouc3
Tugas kelompok Dosen pembimbing
Membaca Lanjut Drs.Darusman,AR,M.Pd
MEMBACA KARYA SASTRA TRADISIONAL dan
MODEL PROSA FIKSI, PUISI, dan DRAMA
Disusun Oleh:
APRIL RAHMA DIANTO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU – RIAU
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar