APRIL RAHMADIANTO

Rabu, 22 Mei 2013


Sejuta Kisah dalam satu kehidupan
Masa kecil
            Aku tidak tahu harus memulai dari mana menceritakan kisahku ini, aku yang terlahir pada tanggal 11 April 1990, dengan nama April Rahmadianto anak dari pasangan Pak Dermawan dan Ibu Emiyusti. Ibu dan ayahku sama-sama orang melayu namun berbeda daerah ibuku yang berasal dari Taluk Kuantan tepatnya Desa Sikijang, Kecamatan Logas Tanah Darat sedangkan ayahku asli orang Desa Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Di akte Aku dilahirkan di Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, sebenarnya aku terlahir di Desa Sikijang, Kecamatan Logas Tanah Darat. konon masa itu masih Kecamatan Baserah, Kabupaten Kuantan Singingi.
            Konon, sejarah yang aku dapat pada saat usiaku 6 bulan aku dibawa pindah ke tempat ayahku berasal. Semenjak itulah aku menjalani kehidupan di sana hingga aku mengenal dunia ini secara bertahap. Hari-hariku rasa sangat terasa indah mungkin karena aku anak yang paling tua. Oleh sebab itu, semua keinginanku terpenuhi namun masa kecilku aku merasa kurang beruntung karena aku tergolong orang yang penyakitan tidak bias bebas bermain dengan kawan-kawan sebayaku. Tapi Alhamdulillah aku biasa menghirup nafas hingga hari ini.
                                           Masa sekolah dasar
Saat usia ku menginjak 7 tahun orang tuaku memasukanku ke sekolah dasar yaitu di SDN 007 Desa Gondai yang dulu bernama SDN 010, karena masih masuk wilayah Kabupaten Kampar dan belum dimekarkan.
            Saat hari pertama aku ke sekolah perasaanku antara takut dan bahagia karena kata sebagian orang guru-gurunya garang-garang, mungkin kilerlah bahasanya anak muda sekarang. Sesampainya di sekolah aku terkejut melihat semua siswa baru diantar oleh orang tua masing sedangkan aku berangkat dengan sendiri dan lebih yang membuat aku terkejut adalah pada saat berbaris akulah orang yang paling kecil diantara siswa-siswa yang lain sehingga setiap kali berbaris selalu aku yang disuruh di depan. Semenjak itu hari demi hari kegiatan pembelajaran di sekolah ku ikuti dengan semangat.
            Setelah 3 bulan mengikuti proses pembelajaran tibalah saat ujian caturwulan pertama karena dahulu belum menggunakan sistem semester. Saat mengambil raporpun tiba, pada saat itu sangat sedih sekali karena orang tuaku tidak datang mengambilkan raporku sementara siswa lain orang tuanya datang. Karena tidak kuat menahan kesedihanku, aku pun pulang dengan berlari sembari menangis, lagian rumahku tidaklah terlalu jauh dari sekolah. Sesampainya di rumah ibuku bertanya ada apakah gerangan sebab aku menagis, dalam keadaan menagis tersedu-sedu lalu aku menjawab, kalau aku sedih karena ayah tidak datang mengambilkan raportku. Setelah tahu permasalahannya ibuku mencoba menenangkanku dan menceritan kenapa ayahku tiak bisa datang mengambilkan raporku, ibu bilang kalau ayah tidak datang karena harus pergi bekerja maklum kondisi keluargaku saat itu sudah mulai sulit karena pengeluaran keuangan sudah mulai meningkat. sementara ibu masih dalam keadaan lemah karena siap melahirkan adikku yang pertama.
            Setelah susah payah ibuku memberikan pengertian akhirnya aku bisa menerima keadaan tersebut namun aku tak pergi lagi kesekolah karena aku merasa malu. Esoknya aku ke sekolah aku dipanggil oleh guru kelas ku dan beliau bertanya kenapa orang tua ku tidak datang lalu aku jawab kalau ayah ku sakit sedang kan ibu masi belum sembuh habis melahirkan terpaksa aku berbohong karena aku tak mau berbelit-belit akhirnya tanpa bertanya lagi guru tersebut langsung memberikan raporku. Tanpa aku lihat isinya langsung aku masukkan kedalam tas tak lama kemudian waktu pulang pun tiba aku pun pulang. Sesampainya dirumah langsung ku perlihatkan kepada ibu, lalu ibu terkejut dan memperlihatkan ekspresi wajah yang kurang enak di pandang lalu aku coba bertanya “kenapa Bu..?“  “Nilai mu kurang baik, karena ada angka 5 pada mata pelajaran matematika mu.” jawab ibu. “Tapi tidak apa besok belajar yang rajin ya.” nasehat ibu sembari mengambilkan nasi untukku makan siang.


            Semenjak itu aku camkan dalam hatiku untuk belajar yang rajin hari demi hariku lewati menuntut ilmu di sekolah. Hingga tanpa memperdulikan datang atau tidak orang tuaku untuk mengambil rapor ku. Karena aku mulai sadar bahwa mereka mempunyai kesibukan lain yang lebih penting dari urusan mengambil rapor ku.
            Tanpa ku sadari berjalannya waktu aku sudah memasuki kelas tiga dan nilaiku makin membaik saat ujian akhir untuk naik ke kelas tiga aku meraih rengking tiga perasaan ku sangat senang meski orang tuaku tidak datang mengambilkan raporku. Semenjak itu aku selalu masuk dalam tiga besar siswa yang berprestasi di sekolahku. Hari-hari kujalani dengan semestinya seperti anak kebanyakan bermain bersama anak-anak sebayaku.
            Hari-hari aku jalani dengan gembira meski orang tuaku tidak pernah datang setiap kali mengambil raporku, tapi itu bukanlah jadi sesuatu yang membuatku sedih lagi. Hari demi hari seiring berjalannya waktu tidak terasa aku sudah duduk di kelas enam hari-hariku makin disibukkan dengan aktipitas les dan belajar tambahan serta belajar kelompok bersama teman-temanku. Jauh sebelum aku memasuki ujian akhir nasional ibuku sibuk mempersiapkan seragamku untuk di sekolah menengah pertama nanti, meski berlatarkan keluarga yang pas-pasan satu prinsip yang dipegang teguh orang tuaku adalah pendidikan putra putrinya merupakan prioritas pertama, rela mengurangi duit untuk belanja asalkan anak-anaknya bersekolah.
            Ujian akhir nasional sudah dimulai, hari pertama ujian Alhamdulillah berjalan dengan santai meski dalam hati tidak karuan melihat paket soal yang dibagikan. Hari-hari berikutnya juga demikian namun tak seperti hari pertama hingga terbiasa. Hari demi hari aku jalani dengan santai namun serius dalam mengikuti ujian akhir nasional. Dua minggu tanpa terasa berlalu ujianpun berlalu seiring hilangnya beban pikiran yang menyemak dibenakku. Selama menunggu hasil ujian keluar aku memanfaatkan waktu itu untuk berkumpul bersama keluargaku karena tidak akan lama lagi aku akan berpisa bersama keluargaku sebab nenek memintaku untuk tinggal bersamanya dan disekolahkan olehnya di talukkuantan.

            Hari demi hari tanpa terasa tibalah saatnya aku untuk berpsah dengan keluargaku dihati terasa sangat pilu akan berpisah dengan keluarga terutama ibu yang dalam kehidupanku sehari-hari aku panggil “Umak”. Namun aku adalah seorang anak laki-laki dan demi cita-citaku menjadi seorang pengacara, yaaah apa boleh buat akan aku coba untuk menjalani itu semua, seperti yang sering dikatakan ibuku saat menasehatiku bahwa hanya mati yang tidak bisa dicoba. Akhirnya tibalah saatnya aku diantar oleh keluargaku ke Taluk Kuantan. Sesampainya di sana aku merasakan hal yang luar biasa aku merasa asing padahal di rumah nenekku sendiri.
Bagaimana tidak, aku sama sekali tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan dari kecil aku dibesarkan di tempat ayahku tinggal menggunakan bahasa Melayu Pelalawan. Beberapa hari di situ ibupun kembali pulang ke kampung aku sungguh merasakan hal yang berbeda tanpa ibu. Namun aku mencoba, aku mencoba melawan rasa kehilangan itu karena aku laki-laki aku harus kuat, aku harus bisa. Beberapa minggu disana aku mulai terbiasa dan mulai sibuk dengan aktipitas di sekolah baruku berjumpa teman-teman baru dan aku mulai mengerti dari bahasa Taluk Kuantan satu persatu.

Masa sekolah menengah pertama
            Setelah mendaftar dan mengurus administrasi sekolah, akhirnya aku diterima di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Logas Tanah Darat. Hari pertama masuk sekolah aku mengikuti masa orientasi siswa baru yang biasa disebut dengan MOS, masa orientasi Alhamdulillah tidaklah seperti yang aku bayangkan. Aku tidak pernah diperlakukan secara kasar oleh senior-seniorku. Waktu semasa di sekolah menengah pertama aku adalah orang yang paling pemalu terutama terhadap wanita sehingga aku sering dijaili oleh cewek-cewek kakak tingkatku,sering aku digodain pada saat makan di kantin mereka sangat suka membuat aku gemetaran akibat menahan malu akibat dari ulah mereka. Tidak  jarang pula mereka mengurungku dalam ruangan kelas saat jam istirahat dengan mengunci pintu kelas.
            Awal masuk sekolah aku sering dibilang cupu atau culun karena aku jarang bergaul bersama teman-teman aku cendrung pendiam hal ini mungkin karena aku belum mengerti bahasa Taluk aku terkesan pendiam dan tidak berbicara jika tidak diajak berbicara. Namun bukan berarti aku terkebelakang juga dalam hal pelajaran pada saat ujian semester pertama di kelas satu aku mampu meraih peringkat dua di kelasku sehingga membuat teman-temanku yang sering datang kepadaku untuk berinteraksi, mulai dari curhat ataupun sekedar bertanya masalah tugas maupun mencontek tugasku.
            Selama dua semester duduk di kelas satu alhamdulillah aku mampu mempertahankan peringkatku yaitu meraih peringkat dua. Saat di kelas dua adalah waktu yang penuh moment selama duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di kelas dua secara mengejutkan aku di calonkan menjadi ketua OSIS aku direkomendasikan oleh beberapa lokal sesama kelas dua dan beberapa orang senior pun mendukungku. Aku sangat terharu atas keprcayaan kawan semuanya. Pada saat penyampaian visi dan misi masing calon ketua merupakan pertama kalinya aku berbicara di depan umum disaksikan oleh ratusan teman-temanku dan puluhan guru yang menyaksikan penyampaian visi dan misi ter sebut.
            Dari empat orang calon aku orang yang paling pertama yang menyampaikan saat namaku dipanggila aku maju ke depan kelas dan berdiri di depan ratusan pasang mata yang memandangku. Aku sangat luarbiasa garogi pada saat itu meski aku sudah sering mempraktekkannya di rumah namun rasa garogi tetap ada. Dengan tergagu-gagu aku mulai dengan mengucapkan salam dan membuka kata-kata mukadimah, dan menyampaikan visi misi ku di depan teman-temanku.
Hingga saat ini aku masi ingat kata-kata terakhirku dari pidato tersebut yaitu ”Suatu organisasi bagaikan lima jari jika tidak bersatu tidak menghasilkan apa-apa jadi jika saya terpilih menjadi ketua OSIS saya mengharapkan kerja sama dari semua pihak dilingkungan sekolah.” setelah itu aku menutup pidato dengan mengucapkan salam, riuh tepuk tanganpun menyambut akhir dari pidato yang aku sampaikan. Setelah berpidato perasaanku sangat legah karena aku bisa melewati hal yang sangat berat pada masa itu.

            Setelah menyampaikan visi misi dari semua calon tibalah saatnya pemilihan secara langsung oleh tiap-tiap siswa perasaanku sangat degdegan keringat dingin selalu mengucur deras tak obahnya seperti es batu yang mengembun. Hingga akhirnya pencoblosan selesai tiba pulalah pada saat penghitungan suara. Saat penghitungan suara nama aku pula yang pertama dipanggil sembari aku dan calon yang lainnya duduk di tempat yang disediakan penghitunganpun tetap berlangsung suasana ruangan terdengar rius sekali setiap nama calon yang terpanggil disambut tepuk tangan dari masing-masing pendukung calon yang berlaga.
Tanpa terasa penghitunganpun selesai tanpa aku duga aku mendapat perolehan suara terbanyak dari calon yang lainnya. Begitu mengetahuia hasil penghitungan selesai aku langsung di kerumuni oleh kawan-kawan dan calon yang lain dengan tujuan memberi ucapan selamat meski cuman pemilihan ketua OSIS aku cukup bangga dengan prestasi yang ku raih.Sekarang aku sudah menjadi ketua OSIS di sekolahku setelah dilantik oleh kepala sekolah, aku sudah memiliki kesibukan baru bersama pengurus dan anggota OSIS yang lainnya. Yang lebih menguntungkan aku lebih dekat dengan guru-guru di sekolahku.
Aku juga punya cerita lain yang berkesan dalam hidupku selama duduk dibangku sekolah menengah pertama cerita itu. Hhhmmm waktu aku mendapat surat cinta pertama dari seorang wanita ya meskipun cinta monyet tapi masa itu sudah sangat luar biasa menurut saya. Pagi itu pagi senin aku dan seorang temanku sengaja datang pergi ke sekolah untuk mempersiapkan perlengkapan uapacara bendera, sebelum aku masuk ruangan perlengkapan aku terlebih dahulu masuk ke kelas untuk mengantar tas dan barang-barangku ke lokal.
Setibanya di meja tempatku duduk aku terkejut melihat sebuah amplop berwarna pink dengan tulisan “Hanya buat April jangan di ganggu” begitu melihat itu aku langsung cepat-cepat memasukkannya kedalam tas agar tidak ada yang tahu. Tanpa terpengaruh rasa penasaran apa isi dari surat itu aku langsung bergegas menuju ruangan perlengkapan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara.
Setelah selesai upacara aku langsung mengemas semua perlengkapan upacara dan mengantarnya kembali ke ruangan perlengkapan sekolah. Sesampainya di ruangan aku teringat akan surat yang aku temiu di meja tadi mumpung tidak ada orang di ruangan tersebut aku langsung membuka dan membacanya setelah mengetahui isi surat tersebut aku jadi senyum-senyum sendiri dan perasaanku tidak karuan antara senang dan rasa penasaran.
Siapakah gerangan menulis surat untukku karena namanya tidak dicantumkan di dalam surat tersebut. Dalam surat tersebut tertuli isi hati seseorang terhadapku dan menanyakan apakah aku sudah punya pacar atau belum dan dia juga minta maaf jika dia tidak bisa memberi tahu siapa namanya tapi suatu saat dia akan datang kepadaku untuk memberi tahu siapa dirinya.
Semenjak membaca surat itu aku dihantui rasa penasaran pertanyaan besar terpatri di benakku. Aku berharap orang menulis surat tersebut adalah orang yang aku kagumi juga karena aku juga mengagumi seseorang di sekolahku saat itu namun itu hanya harapan belaka. Sampai suatu ketika hari itu dalah hari saptu saat jam olahraga aku terlambat mengganti pakayan olahraga sehingga aku sendirian mengganti baju di dalam ruangan ganti. Setelah selesai mengganti pakaiyan aku bergegas keluar, begitu aku membuka pintu aku terkejut ada seorang perempuan berkulit putih rambut panjang tinggi berdiri di samping pintu dan wanita itu adalah wanita yang aku kagumi di sekolahku. Dengan terbata-bata aku langsung menyapa dia
,,, “eh Rani kamu lagi ngapain di sini bukannya kamu g’ ada jam olahraga hari ini…”
Lalu dia menjawab “,,, hhmm iya pril aku sengaja menunggu kamu di sini….”
Aku bertanya dalam hati lalu aku kembali menanyakan perihal dan maksud dia menunggu aku di depan ruangan ganti” ,,, menunggu aku, emang ada apa ran,,”,tanyaku kembali dengan sepontan dia menjawab “,,, aku menepati janjiku dalam sebuah surat yang kamu terima tempo hari dan aku meminta jawaban dari pertanyaanku dalam surat kemaren,,,”.
lalu aku terperanga tanpa aku duga yang menulis surat untukku adalah Rani perempuan yang aku kagumi juga  aku tidak bisa berkata apa-apa selain terpaku dan badanku yang gemeteran. Namun belum sempat aku menjawab pertanyaan dia semua, aku sudah keburu di panggil oleh temanku karena guru olahragaku sudah datang dan pelajaran lompat tinggi hari itu sudah di mulai aku berlalu tanpa kata meninggalkan dia namun aku hanya memberi senyuman yang memberi isyarat bahwa aku juga kagum padanya.

Semenjak setiap kali bertemu di sekolah kami masing-masing tersipu malu dan setiap kali jam istirahat aku sering nyamperin dia kelokalnya terkadang hanya sekedar mengantar makanan ataupun pura-pura minjam buku ataupun pena. Hari-hariku, aku jalaini dengan dunia baruku yang telah mengenal lawan jenis dan menjalin hubungan cinta monyet yang cemburu bila ada orang yang mengganggu dia dan sangat senang sekali bila bersamanya sembari membaca buku saat jam istirahat sekolah.
Hari-hari berlalu terasa sangat singkat tanpa terasa kini sudah menginjakkan kaki di kelas tiga secara otomatis kesibukanpun bertambah kini tiba saatnya aku mengikuti terobosan sekolah untuk ujian akhir nasional. Waktuku bersama Rani pun semakin banyak karena pagi hingga siang di sekolah dan lanjut ke sorenya mengikuti les, hal ini menjadikan semangat untukku mengikuti les menjelang ujian. Tak terasa akhirnya sampai juga di penghujung masa sekolah menengah pertama beberapa bulan lagi kami aku akan mengikuti ujian akhir nasional waktu-waktuku bersama Rani tidak sedekat seperti biasanya karena kami masing-masing fokus untuk belajar untuk menghadapi ujian nasional.
Akhirnya waktu yang dinanti datang juga di pagi senin yang cerah aku bergegas pergi kesekolah dengan berpakaiyan rapi tentu untuk mengikuti ujian di sekolah sebelum ujian aku berjumpa dengan Rani kami hanya berbalas senyum saja dari jarak jauh karena ruangan ujian kami yang berbeda. Perasaanku menghadapi ujian kali ini tak ada bedanya saat mengikuti ujian nasional pada saat duduk di bangku sekolah dasar. Perasaan cemas selalu menghantui akan keberhasilan ujian yang aku jalani sebab ujian kali ini beredar isu bahwa jika tidak lulus harus mengulang satu tahun lagi mendengar hal tersebut sangat membuat aku takut dan gelisah. Namun tetap aku jalani juga bagaimanpun hasilnya nanti kita hanya bisa berusaha dan ALLAH jualah menentukannya.


Hari demi hari berlalu seiring aku jalani ujian dengan serius sembari berdo’a agar aku mendapat nilai yang terbaik dan tanpa terasa ujianpun berlalu sudah dengan perasaan yang gembira yang bercampur rasa cemas akan kelulusan nantinya. Kini ujian telah berlalu hanya menunggu hasi,l saat menunggu hasil ujian keluar terasa sangat lama sekali perasaanku sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil ujian. Sela waktu menunggu hasil ujian keluar aku pulang ke Kampungku di Pelalawan berjumpa dengan keluarga dan kerabatku yang ada di kampung maklum aku sudah hampir satu tahun tidak pulang. Selama aku berada di kampung aku manfaatkan waktuku untuk membantu kedua orang tuaku aku membantu apa saja yang bisa aku kerjakan untuk meringankan pekerjaan orang tuaku.
Tak terasa sedah hampir beberapa minggu aku di kampung tiba saatnya aku kembali ke Taluk Kuantan untuk melihat hasil ujianku. Setelah sampai di Taluk beberapa hari kemudian penggumuman hasil ujian diumumkan aku dengan semangat bergegas ke sekolah begitu sampai di sekolah kami di suruh masuk ke ruangan kelas dan di arahkan untuk tidak mencoret-coret baju dan melakukan konpoi kendaraan. Setelah pengarahan selesai masing-masing kami mendapat sebuah amplop yang berisi hasil ujian.sebuah amplop berwarna putih yang berisi penentuan nasibku selama tiga tahun.
Dengan rasa cemas masing-masing kami membuka amplop yang telah disediakan taklama setelah membuka amplop suara riuh terdengar ada suara tangisan,ada juga suara ketawa dan gembira alhamdulillah sekolah kami lulus semuanya. Setelah aku tahu bahwa aku telah lulus sekolah menengah pertama aku langsung berteriak sekuat-kuatnya meluapkan rasa bahagiaku dan aku bersama kawan-kawan langsung saling mengcapkan selamat dan saling coret baju sebagai kenangan terakhir masa sekolah. Masa indah masa sekolah menengah pertama sirna sudah dengan hiporia keceriaan kelulusan kini aku harus menatap jauh untk melanjutkan ini semua kemana aku melanjutkan sekolah berikutnya.




Sekolah menengah kejuruan
            Setelah masa hiporia kelulusan sekolah menengah pertama aku bingung sekolah mana yang akan jadi tempat aku menuntut ilmu. Tanpa pikir anjang akhirnya aku menetapkan pilihan kepada sekolah menengah kejuruan di SMKN 1 Logas Tanah Darat dengan mengambil jurusan pertanian tanaman holtikulturaal. Setelah melengkapi mendeftar dan melengkapi administrasi tanpa masalah aku langsung diterima di sekolah aku yang baru.
            Kini aku sudah menggunakan seragam putih abu-abu dan dengan demikian hubungan ku dengan rani pun hilang begitu saja karena kami sudah berbeda sekolah dia melanjutkan ke sekolah menengah atas sedangkan aku sekolah sesuai dengan jurusanku yang suka bercocok tanam dan merawat tumbuhan. Memang pertanian itu dipandang sepele namun tidaklah semudah yang dibayangkan semua mata pelajaran selalu berhubungan dengan kimia. Namun itu bukanlah jadi kendala bagiku semua itu bisa aku atasi semua Setelah melengkapi mendeftar dan melengkapi administrasi tanpa masalah aku langsung diterima di sekolah aku yang baru.
            Kini aku sudah menggunakan seragam putih abu-abu, aku sekolah sesuai dengan jurusanku yang suka bercocok tanam dan merawat tumbuhan. Memang pertanian itu dipandang sepele namun tidaklah semudah yang dibayangkan semua mata pelajaran selalu berhubungan dengan kimia. Namun itu bukanlah jadi kendala bagiku semua itu bisa aku atasi semua yang penting aku gembira menjalani proses pembelajarannya.

Selama aku duduk di sekolah menengah kejuruan kisahku berbeda dari masa aku sekolah menengah pertama, jika masa di SMP banyak kisah cinta monyet sekarang semua itu tidak ada yaa maklumlah sekolahnya saja jurusan pertanian cewek-cewek yang masuk ke sekolah ini hanya wanita-wanita super sehingga tidak ada yang memikat hati.

            Kisahku semasa di SMK lebih banyak kepada kisah kenakalan remaja banyak hal yang terjadi di masa itu, mulai dari ketahuan merokok, perkelahian, terangkap basah sedang main domino sampai rambut yang dipotong di pagi senin. Isah yang paling berkesan lebih kepada kebersamaan bersama kawan-kawan, bagai mana saat-saat praktek bersama makan seru-seruan di kantin sekolah.
Namun paling aku ingat saat masa-masa di SMK yaitu masa aku aktif jadi pemain bola masa itu aku lagi naek daunnya maen sepak bola di sekolah hampir setiap hari saptu tidak mengeluarkan uang jajan karena aku selalu menang taruhan maen bola, di luar jam sekolah aku sering dapat tawaran maen bola ke dese-desa dengan bayaran alakadarnya terkadang jika menang aku bisa mendapatkan uang ratusan ribu sekali main terkadang hanya dapat minyak motor aja.
            Semasa SMK aku juga sering terpilih mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan olahraga ataupun bidang lain. Aku pernah mengikuti lomba lari 5000 meter sekabupaten kuansing meski tidak mendapat peringkat tapi aku sudah cukup bangga karena aku sudah mampu berkopetisi dan aku pernah menjadi perwakilan dari sekolah sebagai anti narkoba serta perwakilan sekolah untuk mengikuti seminar-seminar.sifat aku selma duduk di dangku sekolah menegah atas sungguh jauh berbeda dari waktu duduk di sekolah lanjutan pertama sekarang aku jadi orang yang aktif dan ceria.
Foto saat masi duduk di bangku sekolah menenngah kejuruan
            Aku menjalani masa-masa sekolah dengan enjoi dan sangat senang masalah prestasi alhamdulillah aku masi masuk peringkat tiga besar di kelasku. Aku bisa membuat orang tua ku bangga karena prestasiku. Tanpa terasa aku sudah duduk dikelas dua aku memasuki waktu magang pagi itu kami semua anak kelas dua di kumpulkan oleh guru-guru menentukan kelompok dan tempat magang sekligus memberi pembekalan untuk magang sesudah itu tibalah saatnya pengumuman tempat magang aku dengan beberapa temanku mendapat tempat magang di perusahaan SURYA AGROLIKA REKSA aku tidak bisa membayangkan seperti apa tempat itu namun senior bilang itu merupakan tempat magang yang paling jauh dan sangat jauh dari keramaian tapi aku harus menjalani apapun yang terjadi nantinya.
            Seminggu kemudian kami diberangktkan ke tempt magang masing-masing kami bergegas memasuki mobil jemputan kami terburu-buru karena yang lain sudah berangkat duluan karena mobil yang kami tumpangi terlambat untuk menjemput. Selama di perjalanan suasana dalam mobil sunyi senyap saja dari raut wajah teman-temanku enggan untuk berpisa dengan keluarga masing-masing namun aku tidak ada masalah karena aku sudah terbiasa jauh dari orang tua, yaa selama di mobil aku santai-santai saja sambil mendengarkan musik di henfonku sampai-sampai aku tertidur pulas maklum malamnya aku begadang nonton bola.
Begitu aku terbangun ternyata sudah sampai ketempat tujuan, aku dibangunkan oleh teman sebelah tempat dudukku. Begitu keluar uasana yang berbeda terasa yang semula aku sering melihat suasana kota kecamatan sekarang sejauh mata memandang aku hanya melihat hamparan perkebunan kelapa sawit milik perusahaan dan asap pabrik yang membumbung tinggi serta perkantoran dan rumah karyawan yang berjejer. Kami langsung di sambut oleh humas perusahaan dan di antar ke mes yang telah di sediakan kami di persilakan untuk beristirahat dan di beritahukan bahwa nanti malam di suruh datang ke aula untuk ngumpul dan diberikan arahan.
Selama stirahat kami baring-baring di tempat tidur masing-masing ada yang telfonan ada juga yang tidur. Sementara aku duduk di teras melihat susana baru yang akan aku jalani beberapa bulan kedepannya hingga tanpa aku sadari hari sudah sore akupun langsung bergegas mandi sebab malamnya akan berjumpa dengan manejer perusahaan. Selesai magrib kami sudah ngumpul di aula gedung serbaguna perusahaan aku sangat terkejut ternyata bukan anak pertanian saja yang magang di situ satu hal yang sangat mengejutkan ada seorang gadis jurusan akutansi yang memikat hati mata aku sulit untuk lepas dari paras nya yang cantik.
Dengan rasa penasaran yang luar biasa aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan nada gagu aku menanyakan nama ternyata namanya Dina sungguh tidak aku duga ternyata sangat ramah maklum biasanya orang cantik tuh cuek dan sombong. Semenjak itu hari-hari aku semangat menjalani aktifitasku karena sekian lama hatiku hampa sekarang ada yang buat aku selalu kasmaran. Semenjak itu pula semakin hari kamipun semakin dekat dan di sela-sela aktivitas magang kami sering duduk di kantin sampin kantor tempat dia magang meski kami beda tempat bekerja selalu aku sempatan untuk menjumpainya dan jika aku tidak sempat terkadang dia yang datang ke mes tempat aku tinggal hanya sekedar untuk jumpa dan makan chocolatos bareng karena dina suka sekali makan choklat terutama chocolatos.
Sungguh semenjak kenal dina aku sangat betah menjalani aktivitas magang hari-hari terasa singkat. Ternyata aku memasuki waktu magang sudah tiga bulan sekarang tinggal dua bulan lagi waktu kami magang lagi. Selma magang aku juga mendekatkan diri dengan warga srta pemuda setempat tak jarang akupun sering ikut bermaen bola dengan pemuda setempat kehadiran akupun sangat diterima oleh warga di situ. Hingga sering aku dijemput untuk bermain bola ataupun pertandingan persahabatan antar desa di daerah tersebut.
Selama magang aku juga di angkat sebagai anak angkat oleh seorang bapak yang juga sebagai humas diperusahaan tersebut bapak itu bernama bapak Solihun Damas yang berasal dari pulau jawa maklum daerah tersebut merupakan mayoritas warga transmigrasi dari pulau jawa. Aku di anggap seperti anak sendiri. Tak jarang aku dan dina di ajak jalan-jalan bersama keluarganya saat waktu libur bekerja meskipun cuman pergi makan bakso bersama. Aku sangat merasakan kasih sayang dari bapak angkatku aku dianggap seperti anak sendiri.


Sembari menjalani aktivitas magang dan bercengkrama dengan dina juga bapak angkatku tanpa terasa aku sudah dipenghujung waktu magang. Sedih rasanya berpisah dengan orang-orang yang terkasih, dina yang telah mampu meraih hatiku dan pak solihun yang menyayangi aku sebagai anaknya sendiri. Akhirnya waktu itupun tiba kami berpisah aku harus kembali kesekolah untuk melanjutkan pendidikan sungguh berat untuk memasuki mobil jemputanku melihat keluarga pak solihun dan dina saat melepas kepergianku. Tapi meski berat aku harus kembali pulang.
Setelah sampai di sekolah aku kembali disibukkan dengan aktivitas belajar namun komunikasi ku dengan dina tetap berjalan sering kami telfonan serta smsan menjelang mata ngantuk di malam hari. Beberapa bulan lagi aku akan mengikuti ujian kenakan kelas kesibukan akupun meningkat untuk belajar.beberapa bulan kemudian ujianpun telah selesai dilakukan dan akupun naik ke kelas tiga. Sekarang aku sudah di kelas tiga sama seperti masa SMP kesibukan ku bertambah lagi aku harus mempersiapkan ujian praktek dan les di sore hari. Selama kelas tiga aku jarang pulang keruma aku lebih sering menghabiskan waktuku di sekolah.
Karena kesibukan yang luarbiasa tanpa terasa tiba saatnya aku mengikuti ujian praktek dan ujian nasional. Hati mulai cemas terhadap nasib nilai yang akan diperoleh semua kemampuan sudah aku upayakan semaksimal mungkin namun semua keputusan kembalinya kepada sang pencipta juga. Akhirnya aku bisa juga menyelesaikan itu semua sekarang beban sudah selesai karena aku sudah menyelesaikan semua ujian rasanya sangat legah sekali namun tetap juga rasa cemas menghantui. Sembari menunggu hasil ujian keluar aku dianjurkan mengisi pormulir masuk perguruan tinggi melalui jalur PBUD di Universitas Riau dan aku mencoba mengisi formulir tersebut dengan mengambil jurusan Agrotegnologi di fakultas pertanian UNRI.
Di samping itu aku juga direkomendasi oleh kepala sekolah untuk mengikuti tes untuk bekerja di salah satu perusahaan besar di Riau akupun mengikuti tes tersebut karena pihak perusahaan hanya memberi kesempatan untuk mahasiswa peringkat sepuluh besar di sekolah. Kini aku tinggal menanti hasil dari semuanya dan hasil ujian beberapa minggu lagi akan di umumkan. Menjelang di umumkan akupun menyempatkan diri untuk pulang kampung berjumpa dengan orang tuaku. Selama dikampung aku bertemu ramah dengan keluarga ku juga teman sebaya karena sudah hampir satu tahun pula aku tidak pulang.
Setelah beberapa minggu disana tiba saatnya aku kembali untuk melihat hasil ujianku. Namun sebelum aku pulang aku jatuh sakit sehingga aku tidak dapat merayakan kelulusan bersama teman-teman seperjuangan. Informasi bahwa aku lulus hanya melalui telfon dari paman dan teman-temanku. Meski sedih karena tidak bisa hadir dan merayakan kemenangan tapi aku sangat bahagia karena aku lulus. Beberapa hari setelah pengumuman barulah aku kembali dan datang kesekolah.begitu sampai di sekolah aku mendapat ucapan selamat karena ternyata aku lulus tes perusahaan tersebut dan mereka bersedia untuk memperkerjakan aku setelah trening aku akan dikontrak selama lima tahun.

Masa kuliah
            Namun disamping rasa senang itu aku merasa dilema aku harus memilih kuliah atau bekerja karena disamping aku diterima bekerja aku juga lulus penerimaan mahasiswa baru jalur PBUD. Saat itu sungguh bingung menentukan pilihan aku coba meminta beberapa orang terdekat mereka semua menyarankanku untuk melanjutkan kuliah ke Pekanbaru. Akhirnya saran itu aku erima aku aku berangkat ke Pekanbaru untuk mengurus administrasi untuk masuk universitas. Pertama ke Pekanbaru aku bersama kakak tingkatku dulu yang juga alumni tempat ku sekolah. Setelah selesai mengurus administrasi aku langsung mengikuti matrikulasi sebelum bergabung dengan anak jalur masuk reguler dan non reguler.
            Sekarang aku sudah menjadi mahasiswa salah satu universitas negri di Riau. Pemikiran ku lebih terbuka masalah hubunganku dengan dina sirna seiring berjalannya waktu terakhir aku dengar kabar tentangnya dia masuk sekolah pramugai sepertinya dia hampir menggapai cita-citanya yang dia ceritakan padaku dulu kalau dia ingin menjadi pramugari. Yaaa semoga di sukses sekarang aku buka lembaran baru untuk meraih masa depan.
            Setelama satu semester aku menjalani perkuliahan nilaikupun lumayan bagus dan aku dikenalkan dengan seorang wanita oleh seorang temanku yang bernama Rubia pada saat dia liburan ke pekanbaru hatiku terpikat untuk yang kesekian kalinya anaknya ramah,bersahaja,sopan pula ditambah lagi dia kuliah dibidang kebidanan di salah satu sekolah tinggi di Medan. Semenjak itu kami semakin mendekatkan diri dengan selalu telfonan dan smsan. Lama-kelamaan kami resmi menjalin hubungna aku dan rubia berpacaran. Aku selalu mengunjungi ke rumahnya di ujung batu Rokan Hulu saat dia libur kuliah jika dia pulang kampung. Kami menjalani hubungan jjarak jauh jadi jika berjumpa hanya pada saat di libur dan pulang saja.
Gambar saat aku kuliah di pertanian unri
Kisah lain setelah memasuki masa perkuliahan yaitu ketika memasuki smester dua aku mulai sering praktek dilapangan dan di labor, aku mulai mengeluh karena aku tidak sanggup karena tidak punya motor untuk transportasi sehari-hari ku untuk kuliah ditambah lagi aku sudah mulai praktek. Setiap hari aku harus berjalan kaki ke kampus sejauh 1,5 kilo meter itu hanya untuk perginya saja saat pulang akupun harus berjalan kaki sejauh itu juga dan itu hanya perjalanan untuk kekampus saja belum lagi perjalanan untuk ke tempat praktek lebih dari itu di tambah lagi terkadang harus prektek diluar kampus karena aku dulu kos di jalan mayar sakti bisa dibayangkan jarak nya dengan kampus pertanian UNRI.
Foto saat mengikuti perkuliahan di FAPERTA UNRI
Semenjak pertengahan semester dua kuliah aku mulai keteteran pernah aku minta kendaraan kepada orang tua namun sdikitpun tidak digubris aku tidak tahu mengapa tidak ditanggapi dan akhirnya aku diam saja. Akibat itu nilai ku hancur memasuki semester juga demikian yang aku jalani aku sering tidak masuk pada saat jam praktek sehingga nilaiku makin parah saja setelah aku menerima KHS semester tiga aku pulang kampung aku perlihatkan hasil kuliahku dan aku utarakan mengapa nilaiku bisa begini. Setelah aku jelaskan barulah mereka menggubris apa yang menjadi kebutuhanku.
Foto bersama shabatku semasa di pertanian UNRI dari kiri Ardinal,April Rahmadianto,Irwan

Aku dibelikan sebuah motor untuk transportasiku namun semua itu sudah terlambat karena aku sudah semester empat aku tdak mungkin mendongkrak IPK ku menjadi 2,50 sementara pelajaran makin sulit dan IP yang lalu sangat rendah ditambah lagi mata kuliah eksak bukan mata kuliah yang gampang. Akhir nya aku memutuskan untuk pidah universitas, aku mencoba untuk pindah ke Pertanian UIR tapi tetap juga tidak bisa karena IPK yang tidak mencukupi. Dalam keadaan pusing dan hampir putus asa aku mencoba mendaftar lagi di UIR dengan mengambil jurusan hukum di pilihan pertama dan FKIP Bahasa Indonesia di pilihan kedua.
Setelah mengikuti tes aku kembali pulang kekampung aku jelaskan semuanya kepada kedua orang tuaku setelah aku ceritakan raut wajah mereka menggambarkan kekecewaan namun hendak dikata ini bukan kesalahanku sepenuhnya. Akhirnya mereka bisa menerima apa yangtelah terjadi dengan kehidupan ku dan mereka tetap menguliahkan aku kembali. Hasil tespun telah keluar aku diterima di jurusan Bahasa Indonesi FKIP UIR tapi sebenarnya aku lebih mengharapkan kalau aku lulus di jurusan hukum, tapi asudah la aku tetap terima dan menyukurinya. Aku masi bisa kuliah di kesempatan keduaku.
Meski kehidupanku penuh cobaan ketika itu aku tetep bersemangat karena orang-orang terdekatku selalu memberi suport dan dukungan untukku terutama oarang tua dan rubia yang selalu memberiku semangat dan dia bisa menerima semua keadaanku.Selalu bersamaku dalam kondisi seperti apapun. Tak jarang dia memberi aku semangat hidupku di ujung gagand telefon genggamku.akhirnya aku bisa tetap bertahan terhadap cobaan yang menempa diriku untuk lebih kuat lagi dalam menjalani kehidupan kedepannya.
Sekarang aku harus memulai dari awal lagi dengan kuliah di keguruan aku harus mampu meraih masa depan yang lebih baik. Untuk ku persembahkan kepada orang-orang yang mengasihi aku terutama kedua orang tuaku. Sekarang aku sudaah memasuki semester pertama di kampusku yang baru. Meski aku merasa agak minder belajar dengan adik-adik beberapa tahun dibawah aku usianya tapi mereka sangat bersahabat dengan aku mereka juga merupakn penyemangat tersendiri bagiku dalam menjalani perkuliahan yang terkadang lumayan melelahkan dan terkadang juga membuat aku jenuh dengan semuanya.
Semester pertama aku jalani dengan sepenuh hati aku tidak mau lagi hal yang sam terjadi dalam hidupku aku bertekad aku harus bisa. Aku tidak boleh malasa dan mengerjakan semua tugas yang diberikan dosen. Semua itu aku jalani dengan ihklas. Perjuangan ku selama mengikuti proses pembelajaran ternyata tidak sia-sia hasil belajar dari semester pertama alhamdulillah aku meraih IPK 3,83 aku sangat bersyukur bsa meyakinkan kembali kedua orang tua dan rubia orang yang selalu peduli dengan kehidupanku. Aku bertekad aku harus bisa mempertahankan ini semua karena aku sadaar bahwasanya aku kuliah di kesempatan kedua.
Perkuliahan sungguh kujalani dengan enjoi aku merasa tanpa beban tidak seperti waktu kuliah di waktu sebelumnya yang selalu merasa dibebani karena aku harus meraih nilai yang ditargetkan. Sekarang aku lebih plong dan fres dan menikmati aktivitas perkuliahanku yang tanpa beban sedikitpun.ditambah lagi teman-teman satu lokal denganku kompak dan selalu solid saling membantu satu dengan yang lain.

Suasana perkuliahan di FKIP UIR saat semester 2

Saat di semester dua aku mendapat kejutan dari teman-teman, tanpa aku asadri mereka merayakan ulang tahunku. Saat itu aku seolah-olah tersadar dari mimpi ketika melihat kue ulang tahun dari teman-temanku. Aku bukan terkejut karena besar atau indahnya kue ulang tahunku tetapi aku terkejut melihat dua angka yang bertengger di atas kue tar yang dipersembahkan merekaternyata aku sudah berusia 22 tahun namun belum bisa berbuat banyak untuk orang-orang yang mengakisihi aku sungguh aku merasa sedih. Tapi satu hal yang kupegang dalam hidup ini tiada kata terlambat selagi ada kemauwan dan lebih baik berjuang dari pada tidak sama sekali.

Foto saat aku berulang tahun yang ke 22
Semenjak masuk di FKIP UIR aku berusaha untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diriku berbagai organisasi coba aku ikuti. Sekarang aku menjabat ketua dewan pengawas organisasi dalam organisasi ikatan pelajar mahasiswa pelalawan bersatu(IPMPB), saat ini aku juga tercatat sebagai satuan mahasiswa pemuda pancasila kabupaten pelalawan(SAPMAPP) namun semua itu aku merasa belum berarti apa-apa aku harus bisa meraih yang lebih dari itu. Aku harus terus mengeploitasi kemampuanku.

Foto semasa di jogja menjadi utusan kabupaten pelalawan dii kongres IKMPI
Sekarang aku sudah berusia 23 tahun dan menginjak semester 4 hari-hari aku jalani dengan mengikuti perkuliahan dengan seriaus. Aku selalu berusaha untuk mengikuti semua perkuliahan membuat tugas dan bertanya serta menjawab pertanyaan dari dosen. Masalah nilai alhamdulillah lumayanlah bisa bersaing dengan kawan-kawan karena tidaklah terlalu jeblok sekali.
Meski berbeda usia dengan teman satu sekelas dengan ku, aku tidak pernah minder untuk bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik. Justru itu yang memacu semangat aku untuk selalu belajar agar aku sama dengan teman yang lainnya. Selain itu yang membuat aku termotivasi yaitu aku berfikir bahwa aku sudah banyak membuang waktu dua tahun waktu aku sudah hilang sia-sia teman-teman sebaya dengan aku sudah sibuk skripsi sementara aku masi sibuk dengan materi dan teori.
 Sekarang bukanlah waktuku untuk bermain-main menjalani perkuliahan karena sudah terlalu banyak biaya yang telah dikeluarkan oleh orang tua ku, ditambah lagi Rubia sang pacar sudah tamat pula dari pendidikan kebidanan bahkan sekarang sudah bekerja pula. Aku harus bias menyelesaikan kuliahku secepet mungkin agar beban pikiran ini biasa hilang dan bias membanggakan serta membahagiakan orang-orang terkasih.
Foto saat kelas 4e mmenjuarai lomba musikalisasi puisi antar kelas
Selama kuliah di FKIP UIR aku juga punya teman terdekat seperti deni, dika, apri, dan april rahmadianto yang selalu bersama, selalu berbagi susah dan senang. Berangkat ke kampus bersama,makan bareng, buat tugas bareng selalu menjaga keakraban dengan bercanda gurau ya saling ejek di antara kami berempat itu sudah biasa bagi kami ejekan itu sudah menjadi hiburan tersendiri. Meski berbeda karakter tapi kami bisa menyesuaikan diri masing-masing.
Selama kuliah di FKIP aku juga punya cerita lain aku punya seseorang teman yang begitu baik yang selalu membantu aku, mungkin bakan aku saja begitu juga dengan teman-teman yang lainnya yaitu helmi tapi aku lebih sering dan suka manggil dia odonk. Helmi adalah teman sekelas yang menjual pulsa di kelas aku tempat kami ngebon pulsa terkadang sampe menumpuk utang pulsa. Sering ditagih tapi jika pas lagi tidak punya uang tetap juga tidak dibayar terkadang sampe ngomel-ngomel. Tapi dia tetap tidak tegaan orangnya selalu saja ngirim pulsa jika kami mintak kirim pulsa, yaa meski untang aku dan teman-teman yang lain sudah menumpuk.
Foto waktu ujian semester 3 Dari kiri andika saputra,deni afrial,tomi rafeldi,april rahmadianto,aprinaldi
Hingga saat ini aku masi mengikuti perkuliahan di FKIP UIR dan sedang melangsungkan perkuliahan di semester empat. Aku selalu berdo’a agar perkuliahan ini bisa aku jalani dengan sebaik-baiknya. Agar aku bisa meraih strata sarjana dengan harapan kelak aku bisa membanggakan orang-orang yang selalu peduli dengan kehidupanku dan bisa membangun negri ini ke arah yang lebih baik terutama dalam hal pendidikan.
Seiring dengan berjalannya perkuliahan ku saat ini hubungan ku dengan rubia juga berjalan dengan baik. Meskipun dia sudah berstatus sarjana dia hingga saat ini masi setia untuk menunggu menyelesaikan perkuliahan dan meraih sarjana. Sejurus dengan berputarnya waktu kami semakin dekat bahkan kedua orang tuanya sudah bisa menerima aku apa adanya.hal ini juga merupakan sebuah semangat tersendiri untuk ku menjalani kehidupan ini terutama aktivitas kuliah.
Foto aku bersama rubia saat acra wisudanya beberapa bulan yang lalu

Orang tua adalah tonggak utama bagi ku untuk menjalani perkuliahan ini meski aku merasa ini kesempatan kedua yang diberikan oleh mereka namun tetap bersemangat untuk menguliahkan aku hingga meraih gelar sarjana. Dengan harapan agaar kelak aku bisa menjadi contoh bagi adik-adik ku di masa yang akan datang. Agar mereka bersemangat untuk bersekolah dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan.

Saat ini aku hanya bisa berdo’a dan berusaha serta memacu semangat ku tetap berusaha agar aku tabah manjalani perkuliahan ini dengan baik. Karna semanya baru awal perjuangan. Masi banyak hari-hari esok yang akan aku lewati semua itu tidak mudah butuh perjuangan untuk menaklukannya. Semoga saja hari-hari esok aku masi punya kesehatan dan umur panjang amin yarobbal alamin….. Demakianlah segelintir cerita singkat dari kehidupanku hingga saat ini.
Foto pada saat mengikuti ujian mid smester 2012/2013 lalu.