Terlahir dengan nama April Rahmadianto, memiliki betuk wajah lonjong atau biasa disebut dengan bulat telur.kulit bewarna sawo matang,meski ada yang bilang agak kuing lansat. namu semua itu tetap aku syukuri pemberian Allah Awt. memiliki hidung yang lumayan mancung alis mata tebal. bola mata yag bewarna coklat menjadi pembeda denga kebanyakan orang. bibir warna merah yang memeberi penilaian plus kepada setiap lawa jenis yang memandangku yang sering mendapat pujian.
gaya rambut pendek bentuk potongan setegah mohak, namun selalu nampak rapi disetiap penampilam baik di kampus maupu di luar kampus.bentuk telinga caplang banyak diidentikkan denga laki-laki cerdas namu daya menganggap sekedar mitos, namun saya mengaminkan perkataan setiap orang yang berkata.wajah yang dianugrahi bekas jerawat, meski begitu semua menambah penampilaku sebagai laki-laki karena dengan begitu saya terlihat macho dan hal itu kembali menjadi ilai plus bagi ku setiap kaum hawa yang memandang ku.
demikia deskripsika sedikit dari bagian aggota tubuh saya bukan maksud menyombongkan diri amun meurut saya demikianlah adanya.
Catatan April
Jumat, 06 Juni 2014
Analisis Puisi
Nama
Kelompok : 1. April Rahmadianto
(116210466)
2. Deni Afrial (116210119)
Kelas : 6E
Mata Kuliah : Semantik
A. Judul
Skripsi : ADJEKTIVA BAHASA JAWA DIALEK SURABAYA
DI DESA PANGKALAN KASAI KECAMATAN SEBERIDA KABUPATEN INDRAGIRI HULU
Oleh :
Kediali Rismawati
NPM :
086211321
B. Latar Belakang :
1.
Dasar
pemikiran: Chaer (2007: 32) mengemukakan “Bahasa adalah sistem lambang bunyi
yang arbitrer yang digunakan oleh kelompok sosial untuk berkomunikasi dan
mengidentifikasi diri”.
2.
Gejala-gejala
atau fenomena yang terjadi: Penggunaan adjektiva bahasa Jawa dialek Surabaya
baik adjektiva bertaraf maupun tak bertaraf pada masyarakat Surabaya di Desa
Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu. Kusno (1990: 73)
berpendapat “Adjektiva adalah kata yang menjelaskan kesifatan atau keadaan
suatu benda atau yang dibendakan”.
3.
Alasan
tertarik untuk meneliti : Untuk mengetahui proses adjektiva yang teradapat pada
bahasa Jawa dialek Surabaya. Selain itu, untuk mengetahui adjektiva bertaraf
dan tak bertaraf dari segi prilaku semantis yang terdapat pada bahasa Jawa
dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri
Hulu.
4.
Status
penelitian : Penelitian lanjutan
a)
Peneliti 1 :
Hesniyanti tahun 1999, FKIP UNRI, dengan judul penelitian “ Bahasa Melayu Riau
Dialek Kari Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi”.
b)
Peneliti 2 :
Abaidah tahun 2011, FKIP Universitas Islam Riau , dengan judul penelitian
“Bahasa Melayu Riau Dialek Sialang Godang Kecamatan Bandar Petalangan Kabupaten
Pelalawan”.
5. Manfaa
a)
Manfaat
Teoretis : Dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam pembelajaran bahasa Jawa
dan sebagai pedoman atau landasan untuk penelitian lanjut terhadap bahasa
maupun bidang lainnya.
b)
Manfaat
praktis: Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca untuk lebih memahami
adjektiva bahasa Jawa dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan
Seberida Kabupaten Indragiri Hulu.
C. Masalah :
1.
Bagaimanakah
adjektiva bertaraf dari segi perilaku semantisnyayang terdapat pada bahasa Jawa
dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri
Hulu?
2.
Bagaimanakah
adjektifa tak bertaraf dari segi perilaku semantisnya yang terdapat pada bahasa
Jawa dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabipaten
Indragiri Hulu?
D. Tujuan :
1.
Untuk
mengetahui adjektiva bertaraf dari segi perilaku semantis yang terdapat pada
bahasa Jawa dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida
Kabupaten Indragiri Hulu.
2.
Untuk
mengetahui adjektiva tak bertaraf dari segi perilaku semantis yang terdapat
pada bahasa Jawa dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida
Kabupaten Indragiri Hulu.
E. Teori :
Teori yang digunakan :
1.
Teori Hasan
Alwi (2003)
2.
Teori Abdul
Chaer (2007)
3.
Teori
Purwadi (2005)
4.
Teori
Harimurti Kridalaksana (1990)
5.
Teori B.S
Kusno (1990)
6.
Teori Hasan
Lapoliwa (1998)
F. Teknik
yang Digunakan :
1.
Teknik
Observasi
2.
Teknik
Wawancara
3.
Teknik
Rekaman
4.
Teknik
Catatan
G. Analisis
Data :
2.2.1 Adjektiva bertaraf dari segi perilaku semantisnya
yang terdapat pada bahasa Jawa dialek Surabaya di Desa Pangkalan Kasai
Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu.
2.2.1.1
Adjektiva pemeri sifat
2.2.1.2
Adjektiva ukuran
2.2.1.3
Adjektiva warna
2.2.1.4
Adjektiva waktu
2.2.1.5
Adjektiva jarak
2.2.1.6
Adjektiva batin
2.2.1.7
Adjektiva cerapan
2.2.2 Adjektiva tak bertaraf bahasa Jawa dialek
Surabaya di Desa pangkalan Kasai dari segi semantisnya.
H. Hasil :
Berdasarkan
analisis data yang penulis kemukakan dalam bab terdahulu, ternyata masyarakat
Surabaya di Desa Pangkalan Kasai Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu
menggunakan adjektiva bahasa Jawa dialek Surabaya, baik adjektiva bertaraf
maupun tak bertaraf.
I.
Kesimpulan :
Masyarakat Surabaya yang berdomisili
di Desa Pangkalan Kasai tidak hanya menggunakan adjektiva bertaraf, tetapi juga
memakai adjektiva tak bertaraf dalam berkomunikasi. Fakta ini dibuktikan dengan
ditemukannya penggunaan kata [bunder/bulat],
[sadar/sadar], [goib/goib], dan [genep/genap]
dalam percakapan masyarakat.
Bedah Buku SMP
Bedah buku SMP
Dalam buku smp kelas VII terdapat
makna iodiom
1. Kawasan
wisata itu luluh lantak
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(kawasan
wisata itu tidak bersih dan berantakan)
2. Banjir bandang
meratakan kawasan yang indah
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(air
yang datang secara tiba-tiba itu meratakan kawasan wisata yang indah tersebut)
3. Hampir
seluruh desa bukit lawang, kecamatan bohorok, terendam air bah
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(hampir
seluruh desa bukit lawang, kecamatan bahorok, terendam air yang kotor sehingga
mendatangkan penyakit)
4. Jangan
hanya berpangku tangan bantulah
korban bencana banjir
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(jangan
hanya melihat saja, bantulah korban bencana banjir)
5. Banyak
wisata mancanegara yang jatuh hati
pada ataman nasional gunung leuser
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(banya
wisata mancanegara yang suka pad ataman nasional Aleuser)
6. Kami
menyaksikan dengan mata kepala sendiri
gelombang air bercmpur lumpur
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(kami
menyaksikan dengan sendirinya tidak ada rekayasa gelombang air bercampur
lumpur)
7. Aparat
segera turun tangan menolong korban
dan meringankan beban mereka
Makna
yang terkandung dalam kalimat di atas adalah
(aparat
segera datang langsung menolong korban dan meringankan beban mereka)
8. Penguasa
yang menjara hutan memang tak melihat dengan mata hati
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(penguasa
yang menjara hutan memang tak melihat dengan kasihan atau hibah)
9. Pertolongan
secara sukarela dari tim itu menjadi buah
bibir masyarakat
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(pertolongan
secara sukarela dari tim itu menjadi omongan yang baik di masyarakat)
10. Banyak
orang tua yang kehilangan buah hati
mereka saat banjir melanda daerah itu
Makna
yang terdapat dalam kalimat di atas adalah
(banyak
orang tua yang kehilangan anak mereka saat banjir melanda daerah itu)
Analisis puisi
“ Menuju Ke Arus Itu “
Puisi
Selang sedikit, kau lewatkan arus itu padahal sejak
dulu
kita selalu mendambakan Dengan resah gundah di dada
arahkan kompas dan tunjuk dengan lurus pulau itu
yang katamu selalu menyimpan rindu.
Ada yang tergoda manis muka. Disetiap inci
Lekuk tubuhnya menyimpan suatu yang berbagai resah
Kita mencoba mengelak dari bohong yang tajam dari kuatnya
Mimpi yang kusam atau dari waktu yang terbuang
Kau saling membelalak, sama seperti diriku yang mungkin
Juga congkak. Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati
Tanpa kau menuruti kata-kata pepatah pada janji adat
Yang usang. Karena di sana ada harap yang ingin kita
Raih dengan terjang
(Teluk Belitung Januari 2012)
Gaya
atau khususnya gaya bahasa dalam retorika dengan istilah. Kata style diturunkan
dari kata latin stilis , yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin.
Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada
lempengan tadi. Kelak pada penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk
menulis indah. Maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk
menulis atau atau menggunakan kata-kata secara indah.
Aliran
platonic menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan, menurut mereka
ungkapan yang memiliki style ada juga yang tidak memiliki style. Aliran
astoteles menganggap bahwa gaya adalah
suatu kualitas yang inheren yang ada dalam setiap ungkapan. Dengan demikian,
aliran plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan karya yang sama
sekali tidak memiliki gaya.
Gaya
Bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/ meningkatkan
efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi
menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya
bahasa disebut juga majas.
Kata-kata yang digunakan dalam
penggalan puisi tersebut adalah kata konotatif. Artinya,kata-kata yang
berkemampuan mengandung arti ganda
1.
Analisis Gaya Bahasa
.
Pada bait
puisi “Kau saling membelalak”, menunjukan bahwa terdapat gaya bahasa simbolik yang melukiskan sesuatu dengan
menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Dalam kalimat ini
menyatakan dengan jelas bahwa penulislah yang seolah-olah terjadi perselisihan
dan bersitegang. Namun, apabila bait tersebut digabungkan dengan bait
selanjutnya “yang mungkin Juga congkak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
majas fable. Yang menyatakan
perilaku yang tidak baik sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
“yang
tergoda manis muka “ terdengar ungkapan yang memang sudah tidak asing lagi
untuk diperdengarkan. Maka gaya bahasa yang tertorehkan pada bait tersebut
adalah majas alusio. Yang dimana
majas ini menyatakan bahwa pemakaian ungkapan pada “berbagai resah “ yang belum diselesaikan karena sudah terlanjur.
Demikian juga pada bait “ingin kita Raih dengan terjang “ istilah ini
menggunakan majas sinestesia. Yang
menyatakan berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra lainnya.
Pada
bagian terakhir dapat dilihat bagaimana penggunaan majas pada bait puisi tersebut.
Gaya bahasa yang digunakan dalam bait “padahal sejak dulu kita selalu mendambakan “ adalah majas alegori. Yang mana majas ini menyatakan
dengan cara lain, kiasan, dan penggambaran tentang sesuatu. Istilah “Karena di
sana ada harap “ menyatakan bahwa penulis ingin merasakan harapannya tercapai
dari perjuangan yang telah di jalankan.
“yang
katamu selalu menyimpan rindu. “ dalam bait puisi tersebut, dikatakan bahwa
unsur majas yang terkandung di dalamnya adalah majas hiperbola. Yang mana hiperbola itu suatu majas yang bisa disebut
juga sebagai ungkapan pengerang. Bahasa ini menggantikan kata sederhana menjadi
luar biasa kedengarannya.
Demikian
juga pada bait yang berbunyi “Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati “. Dalam
kalimat mengandung arti tercapainya atujuan . Sedangkan “ lewati “ mempunyai
arti kaki. Jadi dapat disimpulkan dalam tataran kalimat tersebut menggunakan
majas sinestesia. Yang mana majas
sinestesia itu sendiri adalah majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu
indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Maksudnya adalah,
dalam majas ini terdapat pertukaran indra dari satu indra ke indra lainnya.
2. Analisis Makna
“selang sedetik kau lewatkan arus itu padahal sejak dulu kita selalu mendambakan”
“selang sedetik kau lewatkan arus itu padahal sejak dulu kita selalu mendambakan”
Dalam kutipan puisi di atas mengungkapkan bahwa telah melupakan sebuah tujuan dan rencana awal dari sebuah perjalanan panjang yang di jalankan secara bersam dalam artian ada pergeseran prinsip dari perjalanan dan perjuangan dari beberapa orang.
“arah kompas dan tunjuk dengan lurus pulau itu yang katamu selalu menyimpan rindu”
Mengingatkan kembali bahwa apa yang di lupakan
sekaran merupakan sesuatau yang sangat diminati dan sangat dirindukan,
didambakan kehadirannya.
“ada yang tergoda dibalik manis muka dari setiap inci lekuk tubuh yang menyimpan sesuatu”
“ada yang tergoda dibalik manis muka dari setiap inci lekuk tubuh yang menyimpan sesuatu”
Penulis
menjelaskan telah tergoda senyum yang penuh nestapa dan kebohongan tertipu
akibat penampilan belaka tanpa memperhitungkan isi hati seseorang.
“Mimpi yang kusam atau dari waktu yang terbuan”
harapan yang terpendam dahulu akan menjadi sia-sia tanpa hasil apa-apa
“ kau saling
membelalak sama seperti diriku yang mungkin juga congkak ”
Terjadi sebuah
perkelahian atau pertikaian akibat dari perbedaan pandangan
“ Arus itu
anehnya tuan tetap kita lewati tanpa kau menuruti kata-kata pepatah panda janji
adat yang usang”
Tujuan yang di
dambakan janji yang sudah terucap terabaikan sia-sia tanpa mendengarkan nasehat
dan tunjuk ajar dari orang tua serta leluhur.
“ karena disana
ada harap yang ingin kita raih dengan terjang”
Karena merasa
disana akan mendapatkan sesuatu yang dirasa lebih dan yang terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)