“ Menuju Ke Arus Itu “
Puisi
Selang sedikit, kau lewatkan arus itu padahal sejak
dulu
kita selalu mendambakan Dengan resah gundah di dada
arahkan kompas dan tunjuk dengan lurus pulau itu
yang katamu selalu menyimpan rindu.
Ada yang tergoda manis muka. Disetiap inci
Lekuk tubuhnya menyimpan suatu yang berbagai resah
Kita mencoba mengelak dari bohong yang tajam dari kuatnya
Mimpi yang kusam atau dari waktu yang terbuang
Kau saling membelalak, sama seperti diriku yang mungkin
Juga congkak. Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati
Tanpa kau menuruti kata-kata pepatah pada janji adat
Yang usang. Karena di sana ada harap yang ingin kita
Raih dengan terjang
(Teluk Belitung Januari 2012)
Gaya
atau khususnya gaya bahasa dalam retorika dengan istilah. Kata style diturunkan
dari kata latin stilis , yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin.
Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada
lempengan tadi. Kelak pada penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk
menulis indah. Maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk
menulis atau atau menggunakan kata-kata secara indah.
Aliran
platonic menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan, menurut mereka
ungkapan yang memiliki style ada juga yang tidak memiliki style. Aliran
astoteles menganggap bahwa gaya adalah
suatu kualitas yang inheren yang ada dalam setiap ungkapan. Dengan demikian,
aliran plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan karya yang sama
sekali tidak memiliki gaya.
Gaya
Bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/ meningkatkan
efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi
menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya
bahasa disebut juga majas.
Kata-kata yang digunakan dalam
penggalan puisi tersebut adalah kata konotatif. Artinya,kata-kata yang
berkemampuan mengandung arti ganda
1.
Analisis Gaya Bahasa
.
Pada bait
puisi “Kau saling membelalak”, menunjukan bahwa terdapat gaya bahasa simbolik yang melukiskan sesuatu dengan
menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Dalam kalimat ini
menyatakan dengan jelas bahwa penulislah yang seolah-olah terjadi perselisihan
dan bersitegang. Namun, apabila bait tersebut digabungkan dengan bait
selanjutnya “yang mungkin Juga congkak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
majas fable. Yang menyatakan
perilaku yang tidak baik sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
“yang
tergoda manis muka “ terdengar ungkapan yang memang sudah tidak asing lagi
untuk diperdengarkan. Maka gaya bahasa yang tertorehkan pada bait tersebut
adalah majas alusio. Yang dimana
majas ini menyatakan bahwa pemakaian ungkapan pada “berbagai resah “ yang belum diselesaikan karena sudah terlanjur.
Demikian juga pada bait “ingin kita Raih dengan terjang “ istilah ini
menggunakan majas sinestesia. Yang
menyatakan berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra lainnya.
Pada
bagian terakhir dapat dilihat bagaimana penggunaan majas pada bait puisi tersebut.
Gaya bahasa yang digunakan dalam bait “padahal sejak dulu kita selalu mendambakan “ adalah majas alegori. Yang mana majas ini menyatakan
dengan cara lain, kiasan, dan penggambaran tentang sesuatu. Istilah “Karena di
sana ada harap “ menyatakan bahwa penulis ingin merasakan harapannya tercapai
dari perjuangan yang telah di jalankan.
“yang
katamu selalu menyimpan rindu. “ dalam bait puisi tersebut, dikatakan bahwa
unsur majas yang terkandung di dalamnya adalah majas hiperbola. Yang mana hiperbola itu suatu majas yang bisa disebut
juga sebagai ungkapan pengerang. Bahasa ini menggantikan kata sederhana menjadi
luar biasa kedengarannya.
Demikian
juga pada bait yang berbunyi “Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati “. Dalam
kalimat mengandung arti tercapainya atujuan . Sedangkan “ lewati “ mempunyai
arti kaki. Jadi dapat disimpulkan dalam tataran kalimat tersebut menggunakan
majas sinestesia. Yang mana majas
sinestesia itu sendiri adalah majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu
indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Maksudnya adalah,
dalam majas ini terdapat pertukaran indra dari satu indra ke indra lainnya.
2. Analisis Makna
“selang sedetik kau lewatkan arus itu padahal sejak dulu kita selalu mendambakan”
“selang sedetik kau lewatkan arus itu padahal sejak dulu kita selalu mendambakan”
Dalam kutipan puisi di atas mengungkapkan bahwa telah melupakan sebuah tujuan dan rencana awal dari sebuah perjalanan panjang yang di jalankan secara bersam dalam artian ada pergeseran prinsip dari perjalanan dan perjuangan dari beberapa orang.
“arah kompas dan tunjuk dengan lurus pulau itu yang katamu selalu menyimpan rindu”
Mengingatkan kembali bahwa apa yang di lupakan
sekaran merupakan sesuatau yang sangat diminati dan sangat dirindukan,
didambakan kehadirannya.
“ada yang tergoda dibalik manis muka dari setiap inci lekuk tubuh yang menyimpan sesuatu”
“ada yang tergoda dibalik manis muka dari setiap inci lekuk tubuh yang menyimpan sesuatu”
Penulis
menjelaskan telah tergoda senyum yang penuh nestapa dan kebohongan tertipu
akibat penampilan belaka tanpa memperhitungkan isi hati seseorang.
“Mimpi yang kusam atau dari waktu yang terbuan”
harapan yang terpendam dahulu akan menjadi sia-sia tanpa hasil apa-apa
“ kau saling
membelalak sama seperti diriku yang mungkin juga congkak ”
Terjadi sebuah
perkelahian atau pertikaian akibat dari perbedaan pandangan
“ Arus itu
anehnya tuan tetap kita lewati tanpa kau menuruti kata-kata pepatah panda janji
adat yang usang”
Tujuan yang di
dambakan janji yang sudah terucap terabaikan sia-sia tanpa mendengarkan nasehat
dan tunjuk ajar dari orang tua serta leluhur.
“ karena disana
ada harap yang ingin kita raih dengan terjang”
Karena merasa
disana akan mendapatkan sesuatu yang dirasa lebih dan yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar