APRIL RAHMADIANTO

Jumat, 06 Juni 2014

Analisis puisi




“ Menuju Ke Arus Itu “
Puisi
Selang sedikit, kau lewatkan arus itu padahal sejak dulu 
kita selalu mendambakan Dengan resah gundah di dada
arahkan kompas dan tunjuk dengan lurus pulau itu
yang katamu selalu menyimpan rindu.

Ada yang tergoda manis muka. Disetiap inci
Lekuk tubuhnya menyimpan suatu yang berbagai resah
Kita mencoba mengelak dari bohong yang tajam dari kuatnya
Mimpi yang kusam atau dari waktu yang terbuang

Kau saling membelalak, sama seperti diriku yang mungkin
Juga congkak. Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati
Tanpa kau menuruti kata-kata pepatah pada janji adat
Yang usang. Karena di sana ada harap yang ingin kita
Raih dengan terjang

(Teluk Belitung Januari 2012)
Gaya atau khususnya gaya bahasa dalam retorika dengan istilah. Kata style diturunkan dari kata latin stilis , yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah. Maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau atau menggunakan kata-kata secara indah.
Aliran platonic menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan, menurut mereka ungkapan yang memiliki style ada juga yang tidak memiliki style. Aliran astoteles  menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang inheren yang ada dalam setiap ungkapan. Dengan demikian, aliran plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan karya yang sama sekali tidak memiliki gaya.
Gaya Bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas.
Kata-kata yang digunakan dalam penggalan puisi tersebut adalah kata konotatif. Artinya,kata-kata yang berkemampuan mengandung arti ganda

1.     Analisis Gaya Bahasa
            .
Pada bait puisi “Kau saling membelalak”, menunjukan bahwa terdapat gaya bahasa simbolik yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Dalam kalimat ini menyatakan dengan jelas bahwa penulislah yang seolah-olah terjadi perselisihan dan bersitegang. Namun, apabila bait tersebut digabungkan dengan bait selanjutnya “yang mungkin Juga congkak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat majas fable. Yang menyatakan perilaku yang tidak baik sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
“yang tergoda manis muka “ terdengar ungkapan yang memang sudah tidak asing lagi untuk diperdengarkan. Maka gaya bahasa yang tertorehkan pada bait tersebut adalah majas alusio. Yang dimana majas ini menyatakan bahwa pemakaian ungkapan pada “berbagai resah “  yang  belum diselesaikan karena sudah terlanjur. Demikian juga pada bait “ingin kita Raih dengan terjang “ istilah ini menggunakan majas sinestesia. Yang menyatakan berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
Pada bagian terakhir dapat dilihat bagaimana penggunaan majas pada bait puisi tersebut. Gaya bahasa yang digunakan dalam bait “padahal sejak dulu  kita selalu mendambakan “ adalah majas alegori. Yang mana majas ini menyatakan dengan cara lain, kiasan, dan penggambaran tentang sesuatu. Istilah “Karena di sana ada harap “ menyatakan bahwa penulis ingin merasakan harapannya tercapai dari perjuangan yang telah di jalankan.

“yang katamu selalu menyimpan rindu. “ dalam bait puisi tersebut, dikatakan bahwa unsur majas yang terkandung di dalamnya adalah majas hiperbola. Yang mana hiperbola itu suatu majas yang bisa disebut juga sebagai ungkapan pengerang. Bahasa ini menggantikan kata sederhana menjadi luar biasa kedengarannya.
Demikian juga pada bait yang berbunyi “Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati “. Dalam kalimat mengandung arti tercapainya atujuan . Sedangkan “ lewati “ mempunyai arti kaki. Jadi dapat disimpulkan dalam tataran kalimat tersebut menggunakan majas sinestesia. Yang mana majas sinestesia itu sendiri adalah majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Maksudnya adalah, dalam majas ini terdapat pertukaran indra dari satu indra ke indra lainnya.

2.      Analisis Makna

“selang sedetik kau lewatkan arus itu padahal sejak dulu kita selalu mendambakan”

Dalam kutipan puisi di atas mengungkapkan bahwa telah melupakan sebuah tujuan dan rencana awal dari sebuah perjalanan panjang yang di jalankan secara bersam dalam artian ada pergeseran prinsip dari perjalanan dan perjuangan dari beberapa orang.

“arah kompas dan tunjuk dengan lurus pulau itu yang katamu selalu menyimpan rindu”

 Mengingatkan kembali bahwa apa yang di lupakan sekaran merupakan sesuatau yang sangat diminati dan sangat dirindukan, didambakan kehadirannya.

“ada yang tergoda dibalik manis muka dari setiap inci lekuk tubuh yang menyimpan sesuatu”

Penulis menjelaskan telah tergoda senyum yang penuh nestapa dan kebohongan tertipu akibat penampilan belaka tanpa memperhitungkan isi hati seseorang.

“Mimpi yang kusam atau dari waktu yang terbuan”

harapan yang terpendam dahulu akan menjadi sia-sia tanpa hasil apa-apa

“ kau saling membelalak sama seperti diriku yang mungkin juga congkak ”
Terjadi sebuah perkelahian atau pertikaian akibat dari perbedaan pandangan
“ Arus itu anehnya tuan tetap kita lewati tanpa kau menuruti kata-kata pepatah panda janji adat yang usang”
Tujuan yang di dambakan janji yang sudah terucap terabaikan sia-sia tanpa mendengarkan nasehat dan tunjuk ajar dari orang tua serta leluhur.
“ karena disana ada harap yang ingin kita raih dengan terjang”
Karena merasa disana akan mendapatkan sesuatu yang dirasa lebih dan yang terbaik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar