Sejuta Kisah dalam satu kehidupan
Masa kecil
Aku tidak tahu
harus memulai dari mana menceritakan kisahku ini, aku yang terlahir pada
tanggal 11 April 1990, dengan nama April Rahmadianto anak dari pasangan Pak
Dermawan dan Ibu Emiyusti. Ibu dan ayahku sama-sama orang melayu namun berbeda daerah
ibuku yang berasal dari Taluk Kuantan tepatnya Desa Sikijang, Kecamatan Logas
Tanah Darat sedangkan ayahku asli orang Desa Gondai, Kecamatan Langgam,
Kabupaten Pelalawan. Di akte Aku dilahirkan di Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam,
Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, sebenarnya aku terlahir di Desa Sikijang,
Kecamatan Logas Tanah Darat. konon masa itu masih Kecamatan Baserah, Kabupaten
Kuantan Singingi.
Konon,
sejarah yang aku dapat pada saat usiaku 6 bulan aku dibawa pindah ke tempat
ayahku berasal. Semenjak itulah aku menjalani kehidupan di sana hingga aku
mengenal dunia ini secara bertahap. Hari-hariku rasa sangat terasa indah
mungkin karena aku anak yang paling tua. Oleh sebab itu, semua keinginanku
terpenuhi namun masa kecilku aku merasa kurang beruntung karena aku tergolong orang
yang penyakitan tidak bias bebas bermain dengan kawan-kawan sebayaku. Tapi
Alhamdulillah aku biasa menghirup nafas hingga hari ini.
Masa sekolah dasar
Saat usia ku menginjak 7 tahun orang
tuaku memasukanku ke sekolah dasar yaitu di SDN 007 Desa Gondai yang dulu
bernama SDN 010, karena masih masuk wilayah Kabupaten Kampar dan belum dimekarkan.
Saat hari pertama
aku ke sekolah perasaanku antara takut dan bahagia karena kata sebagian orang
guru-gurunya garang-garang, mungkin kilerlah bahasanya anak muda sekarang.
Sesampainya di sekolah aku terkejut melihat semua siswa baru diantar oleh orang
tua masing sedangkan aku berangkat dengan sendiri dan lebih yang membuat aku
terkejut adalah pada saat berbaris akulah orang yang paling kecil diantara
siswa-siswa yang lain sehingga setiap kali berbaris selalu aku yang disuruh di
depan. Semenjak itu hari demi hari kegiatan pembelajaran di sekolah ku ikuti
dengan semangat.
Setelah 3
bulan mengikuti proses pembelajaran tibalah saat ujian caturwulan pertama karena
dahulu belum menggunakan sistem semester. Saat mengambil raporpun tiba, pada
saat itu sangat sedih sekali karena orang tuaku tidak datang mengambilkan raporku
sementara siswa lain orang tuanya datang. Karena tidak kuat menahan kesedihanku,
aku pun pulang dengan berlari sembari menangis, lagian rumahku tidaklah terlalu
jauh dari sekolah. Sesampainya di rumah ibuku bertanya ada apakah gerangan
sebab aku menagis, dalam keadaan menagis tersedu-sedu lalu aku menjawab, kalau aku
sedih karena ayah tidak datang mengambilkan raportku. Setelah tahu permasalahannya
ibuku mencoba menenangkanku dan menceritan kenapa ayahku tiak bisa datang
mengambilkan raporku, ibu bilang kalau ayah tidak datang karena harus pergi bekerja
maklum kondisi keluargaku saat itu sudah mulai sulit karena pengeluaran
keuangan sudah mulai meningkat. sementara ibu masih dalam keadaan lemah karena
siap melahirkan adikku yang pertama.
Setelah
susah payah ibuku memberikan pengertian akhirnya aku bisa menerima keadaan
tersebut namun aku tak pergi lagi kesekolah karena aku merasa malu. Esoknya aku
ke sekolah aku dipanggil oleh guru kelas ku dan beliau bertanya kenapa orang
tua ku tidak datang lalu aku jawab kalau ayah ku sakit sedang kan ibu masi
belum sembuh habis melahirkan terpaksa aku berbohong karena aku tak mau
berbelit-belit akhirnya tanpa bertanya lagi guru tersebut langsung memberikan
raporku. Tanpa aku lihat isinya langsung aku masukkan kedalam tas tak lama
kemudian waktu pulang pun tiba aku pun pulang. Sesampainya dirumah langsung ku
perlihatkan kepada ibu, lalu ibu terkejut dan memperlihatkan ekspresi wajah
yang kurang enak di pandang lalu aku coba bertanya “kenapa Bu..?“ “Nilai mu kurang baik, karena ada angka 5 pada
mata pelajaran matematika mu.” jawab ibu. “Tapi tidak apa besok belajar yang
rajin ya.” nasehat ibu sembari mengambilkan nasi untukku makan siang.
Semenjak itu
aku camkan dalam hatiku untuk belajar yang rajin hari demi hariku lewati
menuntut ilmu di sekolah. Hingga tanpa memperdulikan datang atau tidak orang
tuaku untuk mengambil rapor ku. Karena aku mulai sadar bahwa mereka mempunyai
kesibukan lain yang lebih penting dari urusan mengambil rapor ku.
Tanpa ku
sadari berjalannya waktu aku sudah memasuki kelas tiga dan nilaiku makin
membaik saat ujian akhir untuk naik ke kelas tiga aku meraih rengking tiga
perasaan ku sangat senang meski orang tuaku tidak datang mengambilkan raporku. Semenjak
itu aku selalu masuk dalam tiga besar siswa yang berprestasi di sekolahku. Hari-hari
kujalani dengan semestinya seperti anak kebanyakan bermain bersama anak-anak
sebayaku.
Hari-hari
aku jalani dengan gembira meski orang tuaku tidak pernah datang setiap kali
mengambil raporku, tapi itu bukanlah jadi sesuatu yang membuatku sedih lagi. Hari
demi hari seiring berjalannya waktu tidak terasa aku sudah duduk di kelas enam
hari-hariku makin disibukkan dengan aktipitas les dan belajar tambahan serta
belajar kelompok bersama teman-temanku. Jauh sebelum aku memasuki ujian akhir
nasional ibuku sibuk mempersiapkan seragamku untuk di sekolah menengah pertama
nanti, meski berlatarkan keluarga yang pas-pasan satu prinsip yang dipegang
teguh orang tuaku adalah pendidikan putra putrinya merupakan prioritas pertama,
rela mengurangi duit untuk belanja asalkan anak-anaknya bersekolah.
Ujian akhir
nasional sudah dimulai, hari pertama ujian Alhamdulillah berjalan dengan santai
meski dalam hati tidak karuan melihat paket soal yang dibagikan. Hari-hari
berikutnya juga demikian namun tak seperti hari pertama hingga terbiasa. Hari
demi hari aku jalani dengan santai namun serius dalam mengikuti ujian akhir
nasional. Dua minggu tanpa terasa berlalu ujianpun berlalu seiring hilangnya
beban pikiran yang menyemak dibenakku. Selama menunggu hasil ujian keluar aku
memanfaatkan waktu itu untuk berkumpul bersama keluargaku karena tidak akan
lama lagi aku akan berpisa bersama keluargaku sebab nenek memintaku untuk
tinggal bersamanya dan disekolahkan olehnya di talukkuantan.
Hari demi
hari tanpa terasa tibalah saatnya aku untuk berpsah dengan keluargaku dihati
terasa sangat pilu akan berpisah dengan keluarga terutama ibu yang dalam
kehidupanku sehari-hari aku panggil “Umak”. Namun aku adalah seorang anak
laki-laki dan demi cita-citaku menjadi seorang pengacara, yaaah apa boleh buat
akan aku coba untuk menjalani itu semua, seperti yang sering dikatakan ibuku
saat menasehatiku bahwa hanya mati yang tidak bisa dicoba. Akhirnya tibalah
saatnya aku diantar oleh keluargaku ke Taluk Kuantan. Sesampainya di sana aku
merasakan hal yang luar biasa aku merasa asing padahal di rumah nenekku
sendiri.
Bagaimana tidak, aku sama sekali
tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan dari kecil aku dibesarkan di tempat
ayahku tinggal menggunakan bahasa Melayu Pelalawan. Beberapa hari di situ
ibupun kembali pulang ke kampung aku sungguh merasakan hal yang berbeda tanpa
ibu. Namun aku mencoba, aku mencoba melawan rasa kehilangan itu karena aku
laki-laki aku harus kuat, aku harus bisa. Beberapa minggu disana aku mulai
terbiasa dan mulai sibuk dengan aktipitas di sekolah baruku berjumpa
teman-teman baru dan aku mulai mengerti dari bahasa Taluk Kuantan satu persatu.
Masa sekolah menengah pertama
Setelah
mendaftar dan mengurus administrasi sekolah, akhirnya aku diterima di Sekolah Menengah
Pertama Negeri 1 Logas Tanah Darat. Hari pertama masuk sekolah aku mengikuti
masa orientasi siswa baru yang biasa disebut dengan MOS, masa orientasi Alhamdulillah
tidaklah seperti yang aku bayangkan. Aku tidak pernah diperlakukan secara kasar
oleh senior-seniorku. Waktu semasa di sekolah menengah pertama aku adalah orang
yang paling pemalu terutama terhadap wanita sehingga aku sering dijaili oleh
cewek-cewek kakak tingkatku,sering aku digodain pada saat makan di kantin
mereka sangat suka membuat aku gemetaran akibat menahan malu akibat dari ulah
mereka. Tidak jarang pula mereka
mengurungku dalam ruangan kelas saat jam istirahat dengan mengunci pintu kelas.
Awal masuk
sekolah aku sering dibilang cupu atau culun karena aku jarang bergaul bersama
teman-teman aku cendrung pendiam hal ini mungkin karena aku belum mengerti
bahasa Taluk aku terkesan pendiam dan tidak berbicara jika tidak diajak
berbicara. Namun bukan berarti aku terkebelakang juga dalam hal pelajaran pada
saat ujian semester pertama di kelas satu aku mampu meraih peringkat dua di
kelasku sehingga membuat teman-temanku yang sering datang kepadaku untuk
berinteraksi, mulai dari curhat ataupun sekedar bertanya masalah tugas maupun
mencontek tugasku.
Selama dua
semester duduk di kelas satu alhamdulillah aku mampu mempertahankan peringkatku
yaitu meraih peringkat dua. Saat di kelas dua adalah waktu yang penuh moment
selama duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di kelas dua secara
mengejutkan aku di calonkan menjadi ketua OSIS aku direkomendasikan oleh
beberapa lokal sesama kelas dua dan beberapa orang senior pun mendukungku. Aku
sangat terharu atas keprcayaan kawan semuanya. Pada saat penyampaian visi dan
misi masing calon ketua merupakan pertama kalinya aku berbicara di depan umum
disaksikan oleh ratusan teman-temanku dan puluhan guru yang menyaksikan
penyampaian visi dan misi ter sebut.
Dari empat
orang calon aku orang yang paling pertama yang menyampaikan saat namaku
dipanggila aku maju ke depan kelas dan berdiri di depan ratusan pasang mata
yang memandangku. Aku sangat luarbiasa garogi pada saat itu meski aku sudah
sering mempraktekkannya di rumah namun rasa garogi tetap ada. Dengan
tergagu-gagu aku mulai dengan mengucapkan salam dan membuka kata-kata
mukadimah, dan menyampaikan visi misi ku di depan teman-temanku.
Hingga saat ini aku masi ingat
kata-kata terakhirku dari pidato tersebut yaitu ”Suatu organisasi bagaikan lima
jari jika tidak bersatu tidak menghasilkan apa-apa jadi jika saya terpilih
menjadi ketua OSIS saya mengharapkan kerja sama dari semua pihak dilingkungan
sekolah.” setelah itu aku menutup pidato dengan mengucapkan salam, riuh tepuk
tanganpun menyambut akhir dari pidato yang aku sampaikan. Setelah berpidato
perasaanku sangat legah karena aku bisa melewati hal yang sangat berat pada
masa itu.
Setelah
menyampaikan visi misi dari semua calon tibalah saatnya pemilihan secara
langsung oleh tiap-tiap siswa perasaanku sangat degdegan keringat dingin selalu
mengucur deras tak obahnya seperti es batu yang mengembun. Hingga akhirnya
pencoblosan selesai tiba pulalah pada saat penghitungan suara. Saat
penghitungan suara nama aku pula yang pertama dipanggil sembari aku dan calon
yang lainnya duduk di tempat yang disediakan penghitunganpun tetap berlangsung
suasana ruangan terdengar rius sekali setiap nama calon yang terpanggil
disambut tepuk tangan dari masing-masing pendukung calon yang berlaga.
Tanpa terasa penghitunganpun selesai
tanpa aku duga aku mendapat perolehan suara terbanyak dari calon yang lainnya.
Begitu mengetahuia hasil penghitungan selesai aku langsung di kerumuni oleh
kawan-kawan dan calon yang lain dengan tujuan memberi ucapan selamat meski
cuman pemilihan ketua OSIS aku cukup bangga dengan prestasi yang ku
raih.Sekarang aku sudah menjadi ketua OSIS di sekolahku setelah dilantik oleh
kepala sekolah, aku sudah memiliki kesibukan baru bersama pengurus dan anggota
OSIS yang lainnya. Yang lebih menguntungkan aku lebih dekat dengan guru-guru di
sekolahku.
Aku juga punya cerita lain yang
berkesan dalam hidupku selama duduk dibangku sekolah menengah pertama cerita
itu. Hhhmmm waktu aku mendapat surat cinta pertama dari seorang wanita ya
meskipun cinta monyet tapi masa itu sudah sangat luar biasa menurut saya. Pagi
itu pagi senin aku dan seorang temanku sengaja datang pergi ke sekolah untuk
mempersiapkan perlengkapan uapacara bendera, sebelum aku masuk ruangan
perlengkapan aku terlebih dahulu masuk ke kelas untuk mengantar tas dan
barang-barangku ke lokal.
Setibanya di meja tempatku duduk aku
terkejut melihat sebuah amplop berwarna pink dengan tulisan “Hanya buat April
jangan di ganggu” begitu melihat itu aku langsung cepat-cepat memasukkannya
kedalam tas agar tidak ada yang tahu. Tanpa terpengaruh rasa penasaran apa isi
dari surat itu aku langsung bergegas menuju ruangan perlengkapan untuk
mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara.
Setelah selesai upacara aku langsung
mengemas semua perlengkapan upacara dan mengantarnya kembali ke ruangan
perlengkapan sekolah. Sesampainya di ruangan aku teringat akan surat yang aku
temiu di meja tadi mumpung tidak ada orang di ruangan tersebut aku langsung
membuka dan membacanya setelah mengetahui isi surat tersebut aku jadi
senyum-senyum sendiri dan perasaanku tidak karuan antara senang dan rasa
penasaran.
Siapakah gerangan menulis surat
untukku karena namanya tidak dicantumkan di dalam surat tersebut. Dalam surat
tersebut tertuli isi hati seseorang terhadapku dan menanyakan apakah aku sudah
punya pacar atau belum dan dia juga minta maaf jika dia tidak bisa memberi tahu
siapa namanya tapi suatu saat dia akan datang kepadaku untuk memberi tahu siapa
dirinya.
Semenjak membaca surat itu aku
dihantui rasa penasaran pertanyaan besar terpatri di benakku. Aku berharap
orang menulis surat tersebut adalah orang yang aku kagumi juga karena aku juga
mengagumi seseorang di sekolahku saat itu namun itu hanya harapan belaka.
Sampai suatu ketika hari itu dalah hari saptu saat jam olahraga aku terlambat
mengganti pakayan olahraga sehingga aku sendirian mengganti baju di dalam
ruangan ganti. Setelah selesai mengganti pakaiyan aku bergegas keluar, begitu
aku membuka pintu aku terkejut ada seorang perempuan berkulit putih rambut
panjang tinggi berdiri di samping pintu dan wanita itu adalah wanita yang aku
kagumi di sekolahku. Dengan terbata-bata aku langsung menyapa dia
,,, “eh Rani kamu lagi ngapain di
sini bukannya kamu g’ ada jam olahraga hari ini…”
Lalu dia menjawab “,,, hhmm iya pril
aku sengaja menunggu kamu di sini….”
Aku bertanya dalam hati lalu aku
kembali menanyakan perihal dan maksud dia menunggu aku di depan ruangan ganti”
,,, menunggu aku, emang ada apa ran,,”,tanyaku kembali dengan sepontan dia
menjawab “,,, aku menepati janjiku dalam sebuah surat yang kamu terima tempo
hari dan aku meminta jawaban dari pertanyaanku dalam surat kemaren,,,”.
lalu aku terperanga tanpa aku duga
yang menulis surat untukku adalah Rani perempuan yang aku kagumi juga aku tidak bisa berkata apa-apa selain terpaku
dan badanku yang gemeteran. Namun belum sempat aku menjawab pertanyaan dia
semua, aku sudah keburu di panggil oleh temanku karena guru olahragaku sudah
datang dan pelajaran lompat tinggi hari itu sudah di mulai aku berlalu tanpa
kata meninggalkan dia namun aku hanya memberi senyuman yang memberi isyarat
bahwa aku juga kagum padanya.
Semenjak setiap kali bertemu di
sekolah kami masing-masing tersipu malu dan setiap kali jam istirahat aku
sering nyamperin dia kelokalnya terkadang hanya sekedar mengantar makanan
ataupun pura-pura minjam buku ataupun pena. Hari-hariku, aku jalaini dengan
dunia baruku yang telah mengenal lawan jenis dan menjalin hubungan cinta monyet
yang cemburu bila ada orang yang mengganggu dia dan sangat senang sekali bila
bersamanya sembari membaca buku saat jam istirahat sekolah.
Hari-hari berlalu terasa sangat
singkat tanpa terasa kini sudah menginjakkan kaki di kelas tiga secara otomatis
kesibukanpun bertambah kini tiba saatnya aku mengikuti terobosan sekolah untuk
ujian akhir nasional. Waktuku bersama Rani pun semakin banyak karena pagi
hingga siang di sekolah dan lanjut ke sorenya mengikuti les, hal ini menjadikan
semangat untukku mengikuti les menjelang ujian. Tak terasa akhirnya sampai juga
di penghujung masa sekolah menengah pertama beberapa bulan lagi kami aku akan
mengikuti ujian akhir nasional waktu-waktuku bersama Rani tidak sedekat seperti
biasanya karena kami masing-masing fokus untuk belajar untuk menghadapi ujian
nasional.
Akhirnya waktu yang dinanti datang
juga di pagi senin yang cerah aku bergegas pergi kesekolah dengan berpakaiyan
rapi tentu untuk mengikuti ujian di sekolah sebelum ujian aku berjumpa dengan Rani
kami hanya berbalas senyum saja dari jarak jauh karena ruangan ujian kami yang berbeda.
Perasaanku menghadapi ujian kali ini tak ada bedanya saat mengikuti ujian
nasional pada saat duduk di bangku sekolah dasar. Perasaan cemas selalu
menghantui akan keberhasilan ujian yang aku jalani sebab ujian kali ini beredar
isu bahwa jika tidak lulus harus mengulang satu tahun lagi mendengar hal
tersebut sangat membuat aku takut dan gelisah. Namun tetap aku jalani juga
bagaimanpun hasilnya nanti kita hanya bisa berusaha dan ALLAH jualah
menentukannya.
Hari demi hari berlalu seiring aku
jalani ujian dengan serius sembari berdo’a agar aku mendapat nilai yang terbaik
dan tanpa terasa ujianpun berlalu sudah dengan perasaan yang gembira yang
bercampur rasa cemas akan kelulusan nantinya. Kini ujian telah berlalu hanya
menunggu hasi,l saat menunggu hasil ujian keluar terasa sangat lama sekali perasaanku
sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil ujian. Sela waktu menunggu hasil ujian
keluar aku pulang ke Kampungku di Pelalawan berjumpa dengan keluarga dan
kerabatku yang ada di kampung maklum aku sudah hampir satu tahun tidak pulang.
Selama aku berada di kampung aku manfaatkan waktuku untuk membantu kedua orang
tuaku aku membantu apa saja yang bisa aku kerjakan untuk meringankan pekerjaan
orang tuaku.
Tak terasa sedah hampir beberapa
minggu aku di kampung tiba saatnya aku kembali ke Taluk Kuantan untuk melihat
hasil ujianku. Setelah sampai di Taluk beberapa hari kemudian penggumuman hasil
ujian diumumkan aku dengan semangat bergegas ke sekolah begitu sampai di
sekolah kami di suruh masuk ke ruangan kelas dan di arahkan untuk tidak
mencoret-coret baju dan melakukan konpoi kendaraan. Setelah pengarahan selesai
masing-masing kami mendapat sebuah amplop yang berisi hasil ujian.sebuah amplop
berwarna putih yang berisi penentuan nasibku selama tiga tahun.
Dengan rasa cemas masing-masing kami
membuka amplop yang telah disediakan taklama setelah membuka amplop suara riuh
terdengar ada suara tangisan,ada juga suara ketawa dan gembira alhamdulillah
sekolah kami lulus semuanya. Setelah aku tahu bahwa aku telah lulus sekolah
menengah pertama aku langsung berteriak sekuat-kuatnya meluapkan rasa bahagiaku
dan aku bersama kawan-kawan langsung saling mengcapkan selamat dan saling coret
baju sebagai kenangan terakhir masa sekolah. Masa indah masa sekolah menengah
pertama sirna sudah dengan hiporia keceriaan kelulusan kini aku harus menatap
jauh untk melanjutkan ini semua kemana aku melanjutkan sekolah berikutnya.
Sekolah menengah kejuruan
Setelah masa
hiporia kelulusan sekolah menengah pertama aku bingung sekolah mana yang akan
jadi tempat aku menuntut ilmu. Tanpa pikir anjang akhirnya aku menetapkan
pilihan kepada sekolah menengah kejuruan di SMKN 1 Logas Tanah Darat dengan
mengambil jurusan pertanian tanaman holtikulturaal. Setelah melengkapi
mendeftar dan melengkapi administrasi tanpa masalah aku langsung diterima di
sekolah aku yang baru.
Kini aku
sudah menggunakan seragam putih abu-abu dan dengan demikian hubungan ku dengan
rani pun hilang begitu saja karena kami sudah berbeda sekolah dia melanjutkan
ke sekolah menengah atas sedangkan aku sekolah sesuai dengan jurusanku yang
suka bercocok tanam dan merawat tumbuhan. Memang pertanian itu dipandang sepele
namun tidaklah semudah yang dibayangkan semua mata pelajaran selalu berhubungan
dengan kimia. Namun itu bukanlah jadi kendala bagiku semua itu bisa aku atasi
semua Setelah melengkapi mendeftar dan melengkapi administrasi tanpa masalah
aku langsung diterima di sekolah aku yang baru.
Kini aku
sudah menggunakan seragam putih abu-abu, aku sekolah sesuai dengan jurusanku
yang suka bercocok tanam dan merawat tumbuhan. Memang pertanian itu dipandang
sepele namun tidaklah semudah yang dibayangkan semua mata pelajaran selalu
berhubungan dengan kimia. Namun itu bukanlah jadi kendala bagiku semua itu bisa
aku atasi semua yang penting aku gembira menjalani proses pembelajarannya.
Selama aku duduk di sekolah menengah
kejuruan kisahku berbeda dari masa aku sekolah menengah pertama, jika masa di SMP
banyak kisah cinta monyet sekarang semua itu tidak ada yaa maklumlah sekolahnya
saja jurusan pertanian cewek-cewek yang masuk ke sekolah ini hanya
wanita-wanita super sehingga tidak ada yang memikat hati.
Kisahku
semasa di SMK lebih banyak kepada kisah kenakalan remaja banyak hal yang
terjadi di masa itu, mulai dari ketahuan merokok, perkelahian, terangkap basah
sedang main domino sampai rambut yang dipotong di pagi senin. Isah yang paling
berkesan lebih kepada kebersamaan bersama kawan-kawan, bagai mana saat-saat
praktek bersama makan seru-seruan di kantin sekolah.
Namun paling aku ingat saat masa-masa
di SMK yaitu masa aku aktif jadi pemain bola masa itu aku lagi naek daunnya
maen sepak bola di sekolah hampir setiap hari saptu tidak mengeluarkan uang
jajan karena aku selalu menang taruhan maen bola, di luar jam sekolah aku
sering dapat tawaran maen bola ke dese-desa dengan bayaran alakadarnya
terkadang jika menang aku bisa mendapatkan uang ratusan ribu sekali main
terkadang hanya dapat minyak motor aja.
Semasa SMK
aku juga sering terpilih mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan olahraga
ataupun bidang lain. Aku pernah mengikuti lomba lari 5000 meter sekabupaten
kuansing meski tidak mendapat peringkat tapi aku sudah cukup bangga karena aku
sudah mampu berkopetisi dan aku pernah menjadi perwakilan dari sekolah sebagai
anti narkoba serta perwakilan sekolah untuk mengikuti seminar-seminar.sifat aku
selma duduk di dangku sekolah menegah atas sungguh jauh berbeda dari waktu
duduk di sekolah lanjutan pertama sekarang aku jadi orang yang aktif dan ceria.
Foto saat masi duduk di bangku sekolah menenngah kejuruan
Aku
menjalani masa-masa sekolah dengan enjoi dan sangat senang masalah prestasi
alhamdulillah aku masi masuk peringkat tiga besar di kelasku. Aku bisa membuat
orang tua ku bangga karena prestasiku. Tanpa terasa aku sudah duduk dikelas dua
aku memasuki waktu magang pagi itu kami semua anak kelas dua di kumpulkan oleh
guru-guru menentukan kelompok dan tempat magang sekligus memberi pembekalan
untuk magang sesudah itu tibalah saatnya pengumuman tempat magang aku dengan
beberapa temanku mendapat tempat magang di perusahaan SURYA AGROLIKA REKSA aku
tidak bisa membayangkan seperti apa tempat itu namun senior bilang itu
merupakan tempat magang yang paling jauh dan sangat jauh dari keramaian tapi
aku harus menjalani apapun yang terjadi nantinya.
Seminggu
kemudian kami diberangktkan ke tempt magang masing-masing kami bergegas
memasuki mobil jemputan kami terburu-buru karena yang lain sudah berangkat
duluan karena mobil yang kami tumpangi terlambat untuk menjemput. Selama di
perjalanan suasana dalam mobil sunyi senyap saja dari raut wajah teman-temanku
enggan untuk berpisa dengan keluarga masing-masing namun aku tidak ada masalah
karena aku sudah terbiasa jauh dari orang tua, yaa selama di mobil aku
santai-santai saja sambil mendengarkan musik di henfonku sampai-sampai aku
tertidur pulas maklum malamnya aku begadang nonton bola.
Begitu aku terbangun ternyata sudah
sampai ketempat tujuan, aku dibangunkan oleh teman sebelah tempat dudukku.
Begitu keluar uasana yang berbeda terasa yang semula aku sering melihat suasana
kota kecamatan sekarang sejauh mata memandang aku hanya melihat hamparan
perkebunan kelapa sawit milik perusahaan dan asap pabrik yang membumbung tinggi
serta perkantoran dan rumah karyawan yang berjejer. Kami langsung di sambut
oleh humas perusahaan dan di antar ke mes yang telah di sediakan kami di
persilakan untuk beristirahat dan di beritahukan bahwa nanti malam di suruh
datang ke aula untuk ngumpul dan diberikan arahan.
Selama stirahat kami baring-baring di
tempat tidur masing-masing ada yang telfonan ada juga yang tidur. Sementara aku
duduk di teras melihat susana baru yang akan aku jalani beberapa bulan
kedepannya hingga tanpa aku sadari hari sudah sore akupun langsung bergegas
mandi sebab malamnya akan berjumpa dengan manejer perusahaan. Selesai magrib
kami sudah ngumpul di aula gedung serbaguna perusahaan aku sangat terkejut
ternyata bukan anak pertanian saja yang magang di situ satu hal yang sangat
mengejutkan ada seorang gadis jurusan akutansi yang memikat hati mata aku sulit
untuk lepas dari paras nya yang cantik.
Dengan rasa penasaran yang luar biasa
aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan nada gagu aku menanyakan nama
ternyata namanya Dina sungguh tidak aku duga ternyata sangat ramah maklum
biasanya orang cantik tuh cuek dan sombong. Semenjak itu hari-hari aku semangat
menjalani aktifitasku karena sekian lama hatiku hampa sekarang ada yang buat
aku selalu kasmaran. Semenjak itu pula semakin hari kamipun semakin dekat dan
di sela-sela aktivitas magang kami sering duduk di kantin sampin kantor tempat
dia magang meski kami beda tempat bekerja selalu aku sempatan untuk
menjumpainya dan jika aku tidak sempat terkadang dia yang datang ke mes tempat
aku tinggal hanya sekedar untuk jumpa dan makan chocolatos bareng karena dina
suka sekali makan choklat terutama chocolatos.
Sungguh semenjak kenal dina aku
sangat betah menjalani aktivitas magang hari-hari terasa singkat. Ternyata aku
memasuki waktu magang sudah tiga bulan sekarang tinggal dua bulan lagi waktu
kami magang lagi. Selma magang aku juga mendekatkan diri dengan warga srta
pemuda setempat tak jarang akupun sering ikut bermaen bola dengan pemuda
setempat kehadiran akupun sangat diterima oleh warga di situ. Hingga sering aku
dijemput untuk bermain bola ataupun pertandingan persahabatan antar desa di
daerah tersebut.
Selama magang aku juga di angkat
sebagai anak angkat oleh seorang bapak yang juga sebagai humas diperusahaan
tersebut bapak itu bernama bapak Solihun Damas yang berasal dari pulau jawa
maklum daerah tersebut merupakan mayoritas warga transmigrasi dari pulau jawa.
Aku di anggap seperti anak sendiri. Tak jarang aku dan dina di ajak jalan-jalan
bersama keluarganya saat waktu libur bekerja meskipun cuman pergi makan bakso
bersama. Aku sangat merasakan kasih sayang dari bapak angkatku aku dianggap
seperti anak sendiri.
Sembari menjalani aktivitas magang
dan bercengkrama dengan dina juga bapak angkatku tanpa terasa aku sudah
dipenghujung waktu magang. Sedih rasanya berpisah dengan orang-orang yang
terkasih, dina yang telah mampu meraih hatiku dan pak solihun yang menyayangi
aku sebagai anaknya sendiri. Akhirnya waktu itupun tiba kami berpisah aku harus
kembali kesekolah untuk melanjutkan pendidikan sungguh berat untuk memasuki
mobil jemputanku melihat keluarga pak solihun dan dina saat melepas
kepergianku. Tapi meski berat aku harus kembali pulang.
Setelah sampai di sekolah aku kembali
disibukkan dengan aktivitas belajar namun komunikasi ku dengan dina tetap
berjalan sering kami telfonan serta smsan menjelang mata ngantuk di malam hari.
Beberapa bulan lagi aku akan mengikuti ujian kenakan kelas kesibukan akupun
meningkat untuk belajar.beberapa bulan kemudian ujianpun telah selesai dilakukan
dan akupun naik ke kelas tiga. Sekarang aku sudah di kelas tiga sama seperti
masa SMP kesibukan ku bertambah lagi aku harus mempersiapkan ujian praktek dan
les di sore hari. Selama kelas tiga aku jarang pulang keruma aku lebih sering
menghabiskan waktuku di sekolah.
Karena kesibukan yang luarbiasa tanpa
terasa tiba saatnya aku mengikuti ujian praktek dan ujian nasional. Hati mulai
cemas terhadap nasib nilai yang akan diperoleh semua kemampuan sudah aku
upayakan semaksimal mungkin namun semua keputusan kembalinya kepada sang
pencipta juga. Akhirnya aku bisa juga menyelesaikan itu semua sekarang beban
sudah selesai karena aku sudah menyelesaikan semua ujian rasanya sangat legah
sekali namun tetap juga rasa cemas menghantui. Sembari menunggu hasil ujian
keluar aku dianjurkan mengisi pormulir masuk perguruan tinggi melalui jalur
PBUD di Universitas Riau dan aku mencoba mengisi formulir tersebut dengan
mengambil jurusan Agrotegnologi di fakultas pertanian UNRI.
Di samping itu aku juga direkomendasi
oleh kepala sekolah untuk mengikuti tes untuk bekerja di salah satu perusahaan
besar di Riau akupun mengikuti tes tersebut karena pihak perusahaan hanya
memberi kesempatan untuk mahasiswa peringkat sepuluh besar di sekolah. Kini aku
tinggal menanti hasil dari semuanya dan hasil ujian beberapa minggu lagi akan
di umumkan. Menjelang di umumkan akupun menyempatkan diri untuk pulang kampung
berjumpa dengan orang tuaku. Selama dikampung aku bertemu ramah dengan keluarga
ku juga teman sebaya karena sudah hampir satu tahun pula aku tidak pulang.
Setelah beberapa minggu disana tiba
saatnya aku kembali untuk melihat hasil ujianku. Namun sebelum aku pulang aku
jatuh sakit sehingga aku tidak dapat merayakan kelulusan bersama teman-teman
seperjuangan. Informasi bahwa aku lulus hanya melalui telfon dari paman dan
teman-temanku. Meski sedih karena tidak bisa hadir dan merayakan kemenangan
tapi aku sangat bahagia karena aku lulus. Beberapa hari setelah pengumuman
barulah aku kembali dan datang kesekolah.begitu sampai di sekolah aku mendapat
ucapan selamat karena ternyata aku lulus tes perusahaan tersebut dan mereka
bersedia untuk memperkerjakan aku setelah trening aku akan dikontrak selama
lima tahun.
Masa kuliah
Namun
disamping rasa senang itu aku merasa dilema aku harus memilih kuliah atau
bekerja karena disamping aku diterima bekerja aku juga lulus penerimaan
mahasiswa baru jalur PBUD. Saat itu sungguh bingung menentukan pilihan aku coba
meminta beberapa orang terdekat mereka semua menyarankanku untuk melanjutkan
kuliah ke Pekanbaru. Akhirnya saran itu aku erima aku aku berangkat ke
Pekanbaru untuk mengurus administrasi untuk masuk universitas. Pertama ke
Pekanbaru aku bersama kakak tingkatku dulu yang juga alumni tempat ku sekolah.
Setelah selesai mengurus administrasi aku langsung mengikuti matrikulasi
sebelum bergabung dengan anak jalur masuk reguler dan non reguler.
Sekarang aku
sudah menjadi mahasiswa salah satu universitas negri di Riau. Pemikiran ku
lebih terbuka masalah hubunganku dengan dina sirna seiring berjalannya waktu
terakhir aku dengar kabar tentangnya dia masuk sekolah pramugai sepertinya dia
hampir menggapai cita-citanya yang dia ceritakan padaku dulu kalau dia ingin
menjadi pramugari. Yaaa semoga di sukses sekarang aku buka lembaran baru untuk
meraih masa depan.
Setelama
satu semester aku menjalani perkuliahan nilaikupun lumayan bagus dan aku
dikenalkan dengan seorang wanita oleh seorang temanku yang bernama Rubia pada
saat dia liburan ke pekanbaru hatiku terpikat untuk yang kesekian kalinya
anaknya ramah,bersahaja,sopan pula ditambah lagi dia kuliah dibidang kebidanan
di salah satu sekolah tinggi di Medan. Semenjak itu kami semakin mendekatkan
diri dengan selalu telfonan dan smsan. Lama-kelamaan kami resmi menjalin hubungna
aku dan rubia berpacaran. Aku selalu mengunjungi ke rumahnya di ujung batu
Rokan Hulu saat dia libur kuliah jika dia pulang kampung. Kami menjalani
hubungan jjarak jauh jadi jika berjumpa hanya pada saat di libur dan pulang
saja.
Gambar saat aku kuliah di pertanian unri
Kisah lain setelah memasuki masa
perkuliahan yaitu ketika memasuki smester dua aku mulai sering praktek
dilapangan dan di labor, aku mulai mengeluh karena aku tidak sanggup karena
tidak punya motor untuk transportasi sehari-hari ku untuk kuliah ditambah lagi
aku sudah mulai praktek. Setiap hari aku harus berjalan kaki ke kampus sejauh
1,5 kilo meter itu hanya untuk perginya saja saat pulang akupun harus berjalan
kaki sejauh itu juga dan itu hanya perjalanan untuk kekampus saja belum lagi
perjalanan untuk ke tempat praktek lebih dari itu di tambah lagi terkadang
harus prektek diluar kampus karena aku dulu kos di jalan mayar sakti bisa
dibayangkan jarak nya dengan kampus pertanian UNRI.
Foto saat mengikuti perkuliahan di
FAPERTA UNRI
Semenjak pertengahan semester dua
kuliah aku mulai keteteran pernah aku minta kendaraan kepada orang tua namun
sdikitpun tidak digubris aku tidak tahu mengapa tidak ditanggapi dan akhirnya
aku diam saja. Akibat itu nilai ku hancur memasuki semester juga demikian yang
aku jalani aku sering tidak masuk pada saat jam praktek sehingga nilaiku makin
parah saja setelah aku menerima KHS semester tiga aku pulang kampung aku
perlihatkan hasil kuliahku dan aku utarakan mengapa nilaiku bisa begini.
Setelah aku jelaskan barulah mereka menggubris apa yang menjadi kebutuhanku.
Foto bersama shabatku semasa di pertanian UNRI dari
kiri Ardinal,April Rahmadianto,Irwan
Aku dibelikan sebuah motor untuk
transportasiku namun semua itu sudah terlambat karena aku sudah semester empat
aku tdak mungkin mendongkrak IPK ku menjadi 2,50 sementara pelajaran makin
sulit dan IP yang lalu sangat rendah ditambah lagi mata kuliah eksak bukan mata
kuliah yang gampang. Akhir nya aku memutuskan untuk pidah universitas, aku
mencoba untuk pindah ke Pertanian UIR tapi tetap juga tidak bisa karena IPK
yang tidak mencukupi. Dalam keadaan pusing dan hampir putus asa aku mencoba
mendaftar lagi di UIR dengan mengambil jurusan hukum di pilihan pertama dan
FKIP Bahasa Indonesia di pilihan kedua.
Setelah mengikuti tes aku kembali
pulang kekampung aku jelaskan semuanya kepada kedua orang tuaku setelah aku
ceritakan raut wajah mereka menggambarkan kekecewaan namun hendak dikata ini
bukan kesalahanku sepenuhnya. Akhirnya mereka bisa menerima apa yangtelah terjadi
dengan kehidupan ku dan mereka tetap menguliahkan aku kembali. Hasil tespun
telah keluar aku diterima di jurusan Bahasa Indonesi FKIP UIR tapi sebenarnya
aku lebih mengharapkan kalau aku lulus di jurusan hukum, tapi asudah la aku
tetap terima dan menyukurinya. Aku masi bisa kuliah di kesempatan keduaku.
Meski kehidupanku penuh cobaan ketika
itu aku tetep bersemangat karena orang-orang terdekatku selalu memberi suport
dan dukungan untukku terutama oarang tua dan rubia yang selalu memberiku
semangat dan dia bisa menerima semua keadaanku.Selalu bersamaku dalam kondisi
seperti apapun. Tak jarang dia memberi aku semangat hidupku di ujung gagand
telefon genggamku.akhirnya aku bisa tetap bertahan terhadap cobaan yang menempa
diriku untuk lebih kuat lagi dalam menjalani kehidupan kedepannya.
Sekarang aku harus memulai dari awal
lagi dengan kuliah di keguruan aku harus mampu meraih masa depan yang lebih
baik. Untuk ku persembahkan kepada orang-orang yang mengasihi aku terutama
kedua orang tuaku. Sekarang aku sudaah memasuki semester pertama di kampusku
yang baru. Meski aku merasa agak minder belajar dengan adik-adik beberapa tahun
dibawah aku usianya tapi mereka sangat bersahabat dengan aku mereka juga
merupakn penyemangat tersendiri bagiku dalam menjalani perkuliahan yang
terkadang lumayan melelahkan dan terkadang juga membuat aku jenuh dengan
semuanya.
Semester pertama aku jalani dengan
sepenuh hati aku tidak mau lagi hal yang sam terjadi dalam hidupku aku bertekad
aku harus bisa. Aku tidak boleh malasa dan mengerjakan semua tugas yang
diberikan dosen. Semua itu aku jalani dengan ihklas. Perjuangan ku selama
mengikuti proses pembelajaran ternyata tidak sia-sia hasil belajar dari
semester pertama alhamdulillah aku meraih IPK 3,83 aku sangat bersyukur bsa
meyakinkan kembali kedua orang tua dan rubia orang yang selalu peduli dengan
kehidupanku. Aku bertekad aku harus bisa mempertahankan ini semua karena aku
sadaar bahwasanya aku kuliah di kesempatan kedua.
Perkuliahan sungguh kujalani dengan
enjoi aku merasa tanpa beban tidak seperti waktu kuliah di waktu sebelumnya
yang selalu merasa dibebani karena aku harus meraih nilai yang ditargetkan.
Sekarang aku lebih plong dan fres dan menikmati aktivitas perkuliahanku yang
tanpa beban sedikitpun.ditambah lagi teman-teman satu lokal denganku kompak dan
selalu solid saling membantu satu dengan yang lain.
Suasana perkuliahan di FKIP UIR saat semester 2
Saat di semester dua aku mendapat
kejutan dari teman-teman, tanpa aku asadri mereka merayakan ulang tahunku. Saat
itu aku seolah-olah tersadar dari mimpi ketika melihat kue ulang tahun dari
teman-temanku. Aku bukan terkejut karena besar atau indahnya kue ulang tahunku
tetapi aku terkejut melihat dua angka yang bertengger di atas kue tar yang
dipersembahkan merekaternyata aku sudah berusia 22 tahun namun belum bisa
berbuat banyak untuk orang-orang yang mengakisihi aku sungguh aku merasa sedih.
Tapi satu hal yang kupegang dalam hidup ini tiada kata terlambat selagi ada
kemauwan dan lebih baik berjuang dari pada tidak sama sekali.
Foto saat aku berulang tahun yang ke 22
Semenjak masuk di FKIP UIR aku
berusaha untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diriku berbagai organisasi
coba aku ikuti. Sekarang aku menjabat ketua dewan pengawas organisasi dalam
organisasi ikatan pelajar mahasiswa pelalawan bersatu(IPMPB), saat ini aku juga
tercatat sebagai satuan mahasiswa pemuda pancasila kabupaten pelalawan(SAPMAPP)
namun semua itu aku merasa belum berarti apa-apa aku harus bisa meraih yang
lebih dari itu. Aku harus terus mengeploitasi kemampuanku.
Foto semasa di jogja menjadi utusan kabupaten
pelalawan dii kongres IKMPI
Sekarang aku sudah berusia 23 tahun
dan menginjak semester 4 hari-hari aku jalani dengan mengikuti perkuliahan
dengan seriaus. Aku selalu berusaha untuk mengikuti semua perkuliahan membuat
tugas dan bertanya serta menjawab pertanyaan dari dosen. Masalah nilai
alhamdulillah lumayanlah bisa bersaing dengan kawan-kawan karena tidaklah
terlalu jeblok sekali.
Meski berbeda usia dengan teman satu
sekelas dengan ku, aku tidak pernah minder untuk bersaing untuk mendapatkan
nilai terbaik. Justru itu yang memacu semangat aku untuk selalu belajar agar
aku sama dengan teman yang lainnya. Selain itu yang membuat aku termotivasi
yaitu aku berfikir bahwa aku sudah banyak membuang waktu dua tahun waktu aku
sudah hilang sia-sia teman-teman sebaya dengan aku sudah sibuk skripsi
sementara aku masi sibuk dengan materi dan teori.
Sekarang bukanlah waktuku untuk bermain-main
menjalani perkuliahan karena sudah terlalu banyak biaya yang telah dikeluarkan
oleh orang tua ku, ditambah lagi Rubia sang pacar sudah tamat pula dari
pendidikan kebidanan bahkan sekarang sudah bekerja pula. Aku harus bias
menyelesaikan kuliahku secepet mungkin agar beban pikiran ini biasa hilang dan
bias membanggakan serta membahagiakan orang-orang terkasih.
Foto saat kelas 4e mmenjuarai lomba musikalisasi puisi
antar kelas
Selama kuliah di FKIP UIR aku juga
punya teman terdekat seperti deni, dika, apri, dan april rahmadianto yang
selalu bersama, selalu berbagi susah dan senang. Berangkat ke kampus
bersama,makan bareng, buat tugas bareng selalu menjaga keakraban dengan
bercanda gurau ya saling ejek di antara kami berempat itu sudah biasa bagi kami
ejekan itu sudah menjadi hiburan tersendiri. Meski berbeda karakter tapi kami
bisa menyesuaikan diri masing-masing.
Selama kuliah di FKIP aku juga punya
cerita lain aku punya seseorang teman yang begitu baik yang selalu membantu
aku, mungkin bakan aku saja begitu juga dengan teman-teman yang lainnya yaitu
helmi tapi aku lebih sering dan suka manggil dia odonk. Helmi adalah teman
sekelas yang menjual pulsa di kelas aku tempat kami ngebon pulsa terkadang
sampe menumpuk utang pulsa. Sering ditagih tapi jika pas lagi tidak punya uang
tetap juga tidak dibayar terkadang sampe ngomel-ngomel. Tapi dia tetap tidak
tegaan orangnya selalu saja ngirim pulsa jika kami mintak kirim pulsa, yaa
meski untang aku dan teman-teman yang lain sudah menumpuk.
Foto waktu ujian semester 3 Dari kiri andika
saputra,deni afrial,tomi rafeldi,april rahmadianto,aprinaldi
Hingga saat ini aku masi mengikuti
perkuliahan di FKIP UIR dan sedang melangsungkan perkuliahan di semester empat.
Aku selalu berdo’a agar perkuliahan ini bisa aku jalani dengan sebaik-baiknya.
Agar aku bisa meraih strata sarjana dengan harapan kelak aku bisa membanggakan
orang-orang yang selalu peduli dengan kehidupanku dan bisa membangun negri ini
ke arah yang lebih baik terutama dalam hal pendidikan.
Seiring dengan berjalannya
perkuliahan ku saat ini hubungan ku dengan rubia juga berjalan dengan baik.
Meskipun dia sudah berstatus sarjana dia hingga saat ini masi setia untuk
menunggu menyelesaikan perkuliahan dan meraih sarjana. Sejurus dengan
berputarnya waktu kami semakin dekat bahkan kedua orang tuanya sudah bisa
menerima aku apa adanya.hal ini juga merupakan sebuah semangat tersendiri untuk
ku menjalani kehidupan ini terutama aktivitas kuliah.
Foto aku bersama rubia saat acra wisudanya beberapa bulan yang lalu
Orang tua adalah tonggak utama bagi
ku untuk menjalani perkuliahan ini meski aku merasa ini kesempatan kedua yang
diberikan oleh mereka namun tetap bersemangat untuk menguliahkan aku hingga
meraih gelar sarjana. Dengan harapan agaar kelak aku bisa menjadi contoh bagi
adik-adik ku di masa yang akan datang. Agar mereka bersemangat untuk bersekolah
dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
Saat ini aku hanya bisa berdo’a dan
berusaha serta memacu semangat ku tetap berusaha agar aku tabah manjalani
perkuliahan ini dengan baik. Karna semanya baru awal perjuangan. Masi banyak
hari-hari esok yang akan aku lewati semua itu tidak mudah butuh perjuangan
untuk menaklukannya. Semoga saja hari-hari esok aku masi punya kesehatan dan
umur panjang amin yarobbal alamin….. Demakianlah segelintir cerita singkat dari
kehidupanku hingga saat ini.
Foto pada saat mengikuti ujian mid smester 2012/2013
lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar